Andai Rasulullah masih hidup hari ini

Sebenarnya saya tidak biasa berkomentar tentang hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Alasannya simpel, karena saya tidak ingin terkesan hipokrit, sok-sokan komentar masalah agama, padahal g tahu apa-apa. Masalah keagamaan juga kadang sensitif dan kompleks, ga bisa diukur sembarangan menggunakan akal semata dan harus dikomentari dengan bijak. Hal tersebut membuat saya berhenti peduli dengan isu-isu yang ribut dengan masalah agama.

Namun, baru-baru ini memang banyak kejadian terjadi. Pemboman di Paris yang membuat pegungsi Suriah dituduh sebagai dalang terorisme, dan tentu saja, lagi-lagi umat Islam diberi label teroris. Klise sebenarnya, dan saya juga tidak ingin pusing-pusing mikirin itu, soalnya toh cuman bikin sakit hati karena kita ga bisa apa-apa juga. Mau menyangkal pun, kalo trendnya terlalu populer ya pernyataan kita tidak akan ngefek apa-apa. Jujur, saya memang orang yang pesimis. Namun, dari kasus pemboman Paris, banyak juga orang-orang yang masih bisa berpikir dengan nalar dan merasakan dengan hati, bahwa yang harus disalahkan bukan kaum manapun, melainkan aksi terorisme itu sendiri entah oleh siapa dan kepada siapa. Saya merasa masih banyak orang-orang baik di dunia.

Secara psikologis, memang semakin banyak suatu anggota di dalam grup, semakin sulit tercapai titik temu saling pengertian. Sama seperti di militer, makin besar jumlah anggota dalam grup, makin lambat grup tersebut, dan makin sulit mencapai titik temu pengambilan keputusan. Makanya tim-tim militer dibagi kecil-kecil. Jadi, adalah wajar di dunia ini jika akan selalu ada komentar yang bersebrangan. Hal tersebut membuat saya tidak peduli dengan apa yang terjadi, toh kita ikut campur pun tidak akan mengubah apa-apa.

Hari ini ada topik bagus. Jadi ceritanya saya menemukan OST ini dari postingan teman saya. OST tersebut adalah OST Anime yang berjudul Noragami untuk season tahun ini. Kebetulan tahun kemarin saya sempet nonton. Lumayan keren actionnya. Tapi tahun ini saya belum nonton. Jadi saya cukup kaget juga waktu denger OST nya. Iyah, soalnya itu suara Adzan yang diremix :v.

Terus terang aja, waktu pertama dengar, saya langsung bengong… Setelah benar-benar pasti kalau itu Adzan, saya ketawa…

Iya ketawa…

Ketawa miris kayak orang yang dikasih tahu dokternya kalo kena kanker, terus malah ketawa, dan kemudian nanya lagi, “Eh, beneran dok?”

Biasanya saya ignorant dan g peduli sama masalah ginian. Tapi saya jadi teringat lagi kasus Gundam 00. Menurut saya Gundam 00 termasuk serial Gundam yang bagus, karakter para pilotnya definitif, unik, dan pilotnya ada banyak juga, beda dengan Gundam SEED yang sebagian besar ceritanya mengisahkan keimbaan Kira Yamato. Plotnya juga lumayan kompleks. Tapi ada satu arc yang bikin saya bengong. Arc itu, tidak lain dan tidak bukan adalah….

jeng jeng jeng…

Ada karakter yang dipanggil Rasul di Gundam 00 :v.

Iya, Rasul… Rasul… Rasul dalam arti itu tuh, Nabi, atau pemuka agama atau apalah. Pokoknya ada karakter yang seperti imam gitu di Gundam 00. Di serial GUNDAM, bayangin. Udah gitu Rasul di situ pernah megang tangannya si heroinne nya lagi :v. Kan engga banget…

Secara tema juga, di Gundam 00, si pilot utamanya adalah bekas anak2 yang dicuci otak terus disuruh perang atas nama label “Jihadist” dan “Holy War”. Secara ga langsung ini nyindir Islam banget sih dan memberi label yang “buruk” pada Islam. Apalagi ini anim, bakal banyak yang nonton juga. Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, pada saat itu saya cuman bisa ketawa.

Iya, ketawa juga. Ketawa miris, tapi hati sih nangis. Betapa hebatnya kekuatan media sebagai alat penyebaran informasi? Kita bisa dengan mudah mendefame suatu kelompok asalkan kita menguasai media. Bisa bikin anim yang ditonton banyak, jadi bisa masukin stigma seperti itu. Bisa bikin game, jadi bisa bikin musuh-musuh yang Russia lagi Russia lagi (Kayak di game Call of Duty, atau Battlefield) atau Jerman lagi Jerman lagi. Mirisnya, saya berpikir, untuk bisa menangkal hal seperti itu, ya harus dilawan dengan media pula. Namun kita bisa apa?

Ya udahlah, cukup di sini aja keluhannya. Saya ingin mengajak pembaca melihat dari sisi lain. Peribahasa mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang.” Jadi wajar bagi orang-orang yang tidak kenal Islam dan Rasulullah untuk menganggap masalah ini sepele. Ah, itu kan cuma plot device aja, sante aja. Ah, itu kan cuman lagu yang diremix aja, sante aja. Sante nya itu karena memang berpikiran terbuka tau karena tidak tahu?

Yuk kita melihat masa kecil saya sejenak dan lupakanlah isu-isu ribet hari ini. Saya mengajak Anda menjelajah ke kenangan saya, karena Anda berpikiran terbuka kan? Siapa sih Muhammad? Siapa sih Rasulullah? Rasulullah wafat seribu sekian ratus yang lalu. Jelas yang lahir sekarang tidak akan kenal apa-apa, orangnya bagaimana, mukanya gimana, dll. Lalu dari mana saya kenal pria yang bernama Muhammad ini? Jawabannya, dari media juga, yaitu buku.

Waktu kecil, saya punya sebuah buku favorit yang selalu saya baca berulang-ulang. Judulnya 30 Kisah Teladan volume 1 & 2, karya Abdurrahman Arroisi. Disekolahkan di SD Muhammadiyyah yang banyak pelajaran agamanya, terus terang waktu itu saya cukup pusing dengan pelajaran-pelajaran fikih, hafalan/baca Quran, kaligrafi, tarikh Islam, dll. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak memberitahu, kenapa saya harus belajar itu. Tapi, dari sebuah, eh dua buah buku 30 Kisah Teladan, saya diajarkan untuk melihat, siapakah Muhammad dan para sahabat, dan kenapa Islam itu ada.

Kisah-kisah di buku itu benar-benar berisi suri tauladan, dan narasi yang memberikan kita sebuah role model. Muhammad yang saya kenal dari buku tersebut adalah orang yang santun dari kecil, kalo ngomong jujur dan bisa dipercaya, selalu diberi keberkahan entah dari mana datangnya, sabar menghadapi orang-orang yang membencinya, cerdas, pintar, gentlemen, ahli strategi perang juga, solider pada para sahabatnya, berhati lemah lembut, pemalu kalo ngebahas yang vulgar-vulgar mukanya memerah sambil memalingkan muka, kuat, jagoan. Pokoknya banyak sifat yang saya rasa too good to be true ada pada diri manusia. Tentu saja tidak hanya sifat-sifat positif yang dibahas. Beliau juga ga bisa baca tulis, pernah marah, pernah salah mengambil keputusan, tapi juga berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahannya, yang ujung-ujungnya bersifat positif juga. Ada banyak kisah-kisah yang membuat saya terkagum-kagum. Bahkan sifat-sifat para sahabat pun demikian.

Menjelang SMP, saya baru tahu kalau buku tersebut ternyata ada 12 volume, tepat sebelum akhirnya sang penulis meninggal dunia. Jadi kalau satu hari baca satu cerita, dalam setahun Anda bisa baca itu semua. Saya baca buku-buku tersebut, saya baca dan baca lagi, hanya untuk mendapat gambaran, seperti apa sih pria yang bernama Muhammad dan para sahabat-sahabatnya. Tentu saya tidak bisa mengklaim akan paham banget dengan sifat-sifat mereka, tapi toh saya punya sedikit gambaran tentang background keadaan pada zaman itu dan paling tidak bisa memprediksi sifat mereka dari cerita-cerita yang sudah ada.

Rasulullah Muhammad SAW berada di antara kaum dan kehidupan sosial yang mungkin sudah dianggap twisted atau kacau atau tidak elegan lagi. Sewaktu saya masih kecil, saya selalu heran kenapa Rasul sering sekali pergi menyendiri ke gua. Ngapain coba?  Sekarang saya ngerti, mungkin beliau stres punya lingkungan seperti itu. Bayangin, di waktu itu perbudakan adalah hal yang lazim. Pria bisa punya banyak istri, bahkan bisa diwarisin ke anaknya (hah?). Para pria ga mau punya anak perempuan, anak laki-laki lebih membanggakan, ga ada tuh namanya prinsip emansipasi atau kesetaraan gender. Yang miskin banyak, yang kaya ya kaya. Kehidupan keras, karena di gurun, air susah, tanaman cuman juragan yang punya, apalagi ternak. Punya kuda di jaman itu, mungkin ekivalen dengan punya lamborghini di jaman sekarang. Punya pedang ato armor, mungkin setara dengan punya gadget Apple paling mahal ato komputer gaming high end puluhan jutaan. Dari pedangnya aja udah keliatan mana yang bangsawan mana yang rakyat jelata. Dari background itu saja, saya percaya bahwa dengan fakta bahwa beliau bisa memimpin bangsa Arab berubah 180 derajat dari kaum bobrok jadi kaum yang bermartabat, berarti Muhammad bukan manusia biasa. Beliau pasti punya kualitas humanis tertentu yang membuat dia sangat berwibawa dan disegani kawan maupun lawan. Apalagi sampai terkenal seribu sekian ratus tahun kemudian hingga sekarang. It’s gotta be no fluke.

Pernah suatu ketika Rasul ditanya oleh seorang dan dengan niat untuk mengejek, serempak semua sahabat angkat pedang, tapi Rasul menahan dan tetap keep cool lalu melanjutkan berdialog. Seperti itulah Rasul di mata saya.

Oleh karena itu, saat banyak peristiwa pelecehan Rasul dan Islam, saya tidak bisa berhenti untuk membayangkan, apakah yang akan terjadi seandainya Rasul masih hidup? Apa beliau tetap keep cool, menahan para sahabat yang sudah keburu cabut pedang, dan melanjutkan berdialog? Apakah beliau akan bicara dengan marah, atau tetap tenang dan tersenyum, membiarkan beliau dicemooh, namun tetap menanggapi dengan santun? Apa? Apa yang akan engkau lakukan wahai Rasulullah? Apa yang engkau contohkan kalau kasusnya begini? Apa yang terjadi kalau begitu?

Andai saja engkau masih hidup. Saya penasaran, sikap apakah yang akan engkau ambil?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s