Matahari di atas pohon rindang

Matahari bersinar sangat terik di siang hari. Bau aspal, debu dan dedaunan menghiasi sepanjang jalan. Musim kemarau di sini memang sangat panas. Namun aku tidak bisa pulang karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Orang tuaku sedang bekerja di jam segini. Tepatnya, aku sedang berjalan menuju tempat orang tuaku bekerja. Jaraknya tidak terlalu jauh dari SD tempatku sekolah. Tetap saja jarak sepanjang itu cukup melelahkan untuk ditempuh oleh seorang anak SD. Sebagai seorang anak laki-laki, aku hanya menggigit bibir. Anak laki-laki harus bisa menghadapi hal seperti ini kan?

Dengan langkah tegap aku melangkah di samping jalan. Pandanganku bermain-main menatap objek apapun yang aku temukan, motor yang lewat, ibu-ibu pedagang sayur di pasar, ataupun pasukan Paskibra SMP yang sedang berlatih di lapangan. Di rute ini, aku juga akan melewati pedagang es doger di depan stasiun kereta. Es doger yang sangat enak dan segar seharga 500 rupiah. Untuk dapat membelinya, aku harus menabung dua hari. Kebetulan sekali hari ini uang jajan sudah habis. Sehingga aku lewati gerobak es doger tersebut sembari menggigit bibir, membayangkan segarnya air es yang mengalir di tenggorokan. Untuk menghibur diri, aku menyenandungkan hafalan juz amma yang sedang kupelajari di masjid. Hari jumat sore nanti aku akan dites, jadi aku harus berlatih.

Setelah sekian lama berjalan, aku belum juga sampai ke tempat yang dituju. Karena panas yang terik dan udara kering, aku memutuskan untuk berhenti. Aku duduk di bawah pohon rindang untuk membasuh peluh. Sebuah pohon rindang yang aku tidak tahu namanya, di depan sebuah gereja kecil. Aku bilang kecil karena ada lagi gereja yang cukup besar di kecamatan ini, di arah yang berlawanan dari sini. Gereja tersebut sepi. Setahuku, gereja memang ramai di hari minggu, tapi tidak di hari selasa seperti ini. Di samping gereja tersebut ada sebuah warung. Dan di dalam warung itu ada seorang ibu berkaca mata yang sedang menata barang dagangannya. Ibu tersebut menyadari aku melempar mata ke arah warung. Sambil tersenyum dia memanggilku untuk duduk sambil menunjuk bangku bambu yang ada di depan warungnya. Aku menolak. Ibu tersebut bersikeras. Panas, katanya. Tidak apa-apa, katanya lagi.

Aku pun mengakhiri perdebatan dengan melangkah menuju bangku tersebut. Aku duduk di bangku yang masih terlindungi pohon tadi. Pohon ini memang cukup besar dan rindang. Dahan-dahannya terlihat kuat dan kekar, sangat mungkin untuk dipanjat. Aku perhatikan juga banyak buah-buah kecil. Beberapa berwarna hijau, ada juga yang merah. Mungkin bisa dimakan? Pikirku dalam hati.

Sayup-sayup aku mendengar suara kereta api di kejauhan. Di depan gereja ini memang ada rel kereta api, paralel dengan jalan raya. Kereta tersebut pun lewat perlahan karena ingin berhenti di stasiun. Sekelebat kemudian, seseorang terlihat keluar dari gereja. Mungkin anak SD yang seusia ku juga. Lebih tinggi sedikit daripada aku. Dia memakai training panjang hijau dan kaos hijau. Sepintas kelihatannya itu seragam olahraga sekolah. Dia berjalan ke arah warung dan membeli es teh manis di plastik. Dia seruput es teh tersebut menggunakan sedotan sembari duduk di bangku, di samping ku. Wajahnya cerah, secerah matahari yang terik ini. Mungkin perasaannya seperti ikan yang baru dicelupkan ke sekolam air segar. Aku juga ingin melepas dahaga, namun seperti yang sudah kubilang, uang jajanku habis hari ini. Di sini aku hanya akan duduk melepas lelah dan kembali memandangi buah-buah mungil di pohon.

“Hey”

Anak di sampingku ini memanggil. Aku menoleh dengan enggan.

“Mau coba makan?”

Aku mencoba memasang raut muka keheranan, berusaha mencerna kata-kata orang ini. Kemudian dia menunjuk kerumunan buah mungil di pohon itu. Memangnya itu benar-benar bisa dimakan?

“Bisa.”

Dia mengatakannya dengan mantap dan mata berbinar-binar.

“Rasanya manis. Coba deh”

Meskipun perkataannya terasa meyakinkan, tapi terus terang, aku tidak tahu bagaimana caranya memetik buah tersebut dari pohonnya.

“Dipanjat, lah”

Aku pun menggelengkan kepala, untuk menyatakan ketidak setujuan pendapatnya. Komunikasi non verbal adalah hal yang aneh. Sebentar saja tampaknya dia sudah mengerti arti gelengan kepalaku. Entah apa yang ada dipikirannya, dia beranjak dari bangku. Sejurus kemudian tanganku ditarik, dan aku dibawanya ke bawah pohon itu.

“Ayo panjat”

Dengan jelas aku katakan, tidak bisa. Kali ini dengan bahasa verbal.

“Ayolah, laki-laki harus bisa memanjat pohon. Sini aku tunjukkan caranya.”

Dengan cekatan dan hati-hati dia memanjat pohon tersebut. Dengan menggunakan bonggol-bonggol pohon, dia berhasil mencapai cabang yang cukup kuat. Setelah itu dia berusaha berdiri di atasnya. Aku memperhatikan gerak geriknya dengan cemas. Bagaiman kalau dia sampai jatuh? Dia tersenyum di atas sambil berdiri. Tangannya memegang cabang lain sebagai tumpuan. Aku menduga pemandangan dari tempat tersebut mungkin cukup menarik sehingga dia tersenyum puas. Tidak berapa lama kemudian, kepalanya bergeleng-geleng mencari sesuatu.  Kemudian telunjuknya diarahkan ke kerumunan buah-buah mungil di ujung. Perlahan-lahan dia berjalan meniti dahan pohon. Setelah sampai, dia menjangkau dan memetik sebuah. Dengan isyarat, dia memintaku untuk bersiap-siap menangkap buah yang akan dia jatuhkan.

Tidak akan cukup sulit aku menangkap buah tersebut, pikirku. Namun ternyata aku salah, karena ukurannya yang kecil, buah tersebut terpantul dari telapak tanganku dan terjatuh menggelinding di antara batu-batu kerikil.

“Wah, ambil!”

Tentu saja. Dan tentunya kubersihkan dulu. Aku memandang dia dari bawah. Kulihat dia hanya mengangguk-angguk antusias. Aku beranikan diri memakan buah tersebut. Rasanya pahit… atau tidak ada rasa sama sekali?

“Hahaha… mungkin karena masih hijau? Aku ambilkan lagi yang merah.”

Jemarinya mencari-cari dan menggapai buah yang berwarna merah. Dengan isyarat lagi, aku langsung mengerti dan menangkap buah tersebut. Kali ini aku berhasil menangkapnya tanpa jatuh. Tanpa ragu aku memakannya. Dan ternyata, rasanya manis.

“Benar, kan? Enak?”

Dia berteriak dari atas sambil tersenyum. Mungkin karena melihat senyumanku saat memakan buah tadi, dia langsung menyimpulkannya sendiri. Sambil tersenyum aku mengangguk. Sesaat aku melihat matanya yang antusias, sebelum kembali mencari buah merah di antara buah-buah hijau. Aku pun menangkap buah tersebut, dan terkadang dia duduk di atas dahan sambil menikmati sendiri buah merah yang dia dapat. Sementara aku bersandar di batang pohon mengunyah perlahan buah yang aku tidak tahu namanya itu.

Perlahan aku mulai tersadar bahwa aku harus kembali berjalan. Setelah mengucapkan terima kasih padanya dan ibu warung, aku kembali berjalan. Aku lambaikan tangan padanya yang masih duduk menikmati rindangnya suasana di antara dahan-dahan pohon.

Besoknya, hari rabu, aku melewati jalan yang sama, dan kembali melewati pedagang es doger di depan stasiun. Sambil tersenyum aku berkata dalam hati bahwa besok aku bisa membeli es doger lagi, karena hari ini aku sudah menabung. Jalanan masih terasa panas seperti kemarin, dan keringnya debu jalanan masih menghiasi udara. Kulihat anak-anak paskibra yang tinggi dan lebih tua dariku itu dengan gagahnya berlatih derap jalan di lapangan. Aku menyenandungkan lagi hafalan juz amma ku. Sekarang sudah jauh lebih baik. Namun aku masih lupa satu , tiga ayat. Tapi aku yakin jumat maghrib aku akan berhasil menghafalnya.

Tidak berapa lama kemudian sampailah aku di depan gereja, di depan pohon rindang. Ibu warung tersenyum melihat aku datang. Aku pun duduk di bangku menunggu seseorang muncul. Tidak berapa lama kemudian kereta api pun lewat di depan gereja. Seorang anak kecil keluar dari gereja seolah terpanggil oleh deru kereta. Dia keluar dari gereja dengan celana training panjang hijau dan kaos hijau, seperti seragam olahraga suatu sekolah. Dia agak terkejut saat melihatku, namun kemudian, kami berdua tersenyum. Hai, ajarkan aku memanjat pohon. Dan, sesaat aku melihat ada cahaya yang keluar dari matanya, sebuah keantusiasan dari sepasang bola matanya.

“Tentu!” Ucapnya.

Memanjat pohon dimulai dengan cara memilih pijakan. Pijakan yang baik adalah pijakan yang mudah dan meyakinkan. Pijakannya tidak boleh mudah goyah. Salah satu keuntungan anak SD seperti kita, katanya, adalah kita ringan. Badan kita kecil, pijakan kecil pun sudah cukup menopang berat kita, dan dahan pohon pun sudah cukup menyangga kita berdua. Dia mulai memanjat lebih dahulu, mencontohkan bonggol mana yang mudah dipanjat. Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Setelah dia sampai di dahan pertama, aku mulai berusaha memanjat. Ternyata memanjat itu cukup sulit. Kakiku mudah terpeleset. Aku pun melepas sepatuku dan memanjat dengan kaki kosong. Dengan hati-hati aku panjat bonggol demi bonggol, hingga akhirnya mencapai dahan pertama. Dengan sedikit bantuan darinya aku berhasil naik dan berdiri di dahan yang sama dengannya. Kami berdua kemudian tertawa.

Aku mengeluhkan telapak tanganku yang melepuh.

“Nanti juga sembuh.”

Katanya, dengan mantap. Kami mencari-cari dahan lain yang bisa diraih, juga buah lain yang sudah merah. Terkadang selama beberapa detik aku terdiam, menikmati suasana yang hanya bisa dinikmati dari atas. Pohon ini memang tidak seberapa tinggi, namun untuk ukuran anak SD, pemandangan ini sangat berkesan. Agak pusing saat melihat kebawah, namun jantung berdebar, dan itu cukup menegangkan. Perasaan yang aneh tapi menyenangkan! Seperti inikah rasanya melihat dari ketinggian orang dewasa? Aku melirik ke arah ibu warung, dan kusadari, ternyata kami berada lebih tinggi dari orang dewasa. Ada perasaan yang aneh yang mendebarkan bisa melihat dari posisi ini. Seolah-olah hamparan tanah begitu luas, dan cakrawala terasa jauh. Setelah puas mencari buah-buah merah, kami duduk berdua di dahan, menikmati sejuknya berada dalam lindungan dedaunan. Terbebas dari terik matahari yang membakar. Dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi di antara leher dan telinga.

“Hey, tahu tidak? Buah ini sebenarnya makanan ular, lho?”

Aku pun mengernyit, dan dia tertawa jenaka.

“Orang-orang dewasa yang bilang”

“Tapi aku tidak pernah lihat ular di sini.”

Dia menambahkan sambil tersenyum. Kami pun tertawa. Membayangkan ular memanjat pohon untuk makan buah adalah hal yang aneh. Bayangkan jika ular tersebut bisa lompat dan terbang?

Kami tidak banyak berbicara, hanya diam menikmati angin. Namun, aku tahu sudah saatnya melanjutkan perjalanan. Setelah memintanya mengajariku turun, aku pun turun, mengucapkan terima kasih, dan melangkah. Aku melambaikan tangan dan kembali melangkah melewati gereja tersebut.

Tidak berapa lama kemudian aku lihat dua orang teman SD ku sedang berjalan di depan. Aku berlari mengejar keduanya. Mereka agak terkejut.

“Hey, tadi kami lihat kamu naik di pohon tadi.”

Oya? Aku tidak terlalu memperhatikan. Mungkin mereka lewat saat aku sibuk mencari buah-buah. Dengan senang hati, aku pun menceritakan buah-buah merah yang manis tersebut. Aku ungkapkan rasa manisnya agar teman-temanku mau mencobanya.

“Kami tahu nama buahnya.”

Mereka menyebutkan nama buah yang tidak familiar kudengar.

“Tapi itu tidak penting.”

Mereka menambahkan, sekarang dengan mimik muka serius.

“Kamu tahu tidak? Dia itu orang Kristen kan!”

Tentu saja ini tidak mengejutkan. Dia keluar dari gereja, bukan? Yang mengejutkan adalah jika dia keluar gereja dan ternyata dia beragama Budha. Mungkin itu lebih mengejutkan. Namun, ekspresi muka teman-teman begitu serius sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mengernyitkan mata. Mereka saling pandang sebentar kemudian pelan-pelan berbisik.

“Kita kan orang Islam?”

Aku tidak habis pikir. Lalu kenapa? Dia bukan orang jahat. Bahkan dia mengajariku memanjat pohon, dan memetikkan buah yang ranum untukku?

“Iya, tapi kata bapakku, kita harus hati-hati.”

Mengapa? Mengapa harus hati-hati?

“Karena nanti kita diajak jadi orang Kristen dan kita akan ke gereja, tidak boleh ke masjid lagi.”

Aku tidak paham maksud perkataan mereka. Apa hubungannya? Aku berusaha meyakinkan mereka bahwa dia bukan orang seperti itu. Mungkin peringatan bapakmu ditujukan untuk orang Kristen yang sudah dewasa, kan?

“Yah, kita tidak tahu sih. Tapi tidak ada salahnya kamu berhati-hati. Nanti bagaimana kalau kita tidak boleh main ke masjid lagi?”

Tentu saja aku tetap ingin ke masjid. Aku masih harus belajar mengaji. Banyak huruf-huruf hijaiyah yang aku belum hafal betul. Tapi aku mulai mengerti kekhawatiran mereka. Tentunya sangat merepotkan jika kita tiba-tiba dilarang main di masjid lagi oleh orang-orang dewasa. Tapi dia tidak salah apa-apa, kan?

Sembari termenung di perjalanan. Kami bertiga melanjutkan melangkah. Mereka berdua berusaha menghibur dengan membicarakan PR di sekolah, atau celotehan pak guru yang seram. Mereka juga mengingatkanku untuk membawa kelereng-kelereng ku agar bisa bermain bersama besok. Tapi dalam hati, aku tetap gelisah. Namun, aku sudah membulatkan tekad. Besok aku harus melakukan sesuatu.

Hari ini hari Kamis. Matahari masih bersinar terik. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun di musim kemarau ini. Debu-debu masih beterbangan di jalanan. Terkadang aku lihat riak-riak kecil angin membawa debu di tengah jalan. Anak-anak paskibra masih berlatih dengan keras, tidak peduli dengan panas yang membakar. Sebentar lagi aku pun sampai di gerobak es doger depan stasiun. Aku tersenyum. Aku merogoh kantongku dan mengeluarkan selembar uang lima ratus rupiah. Kutukarkan pada bapak penjual dengan satu gelas plastik es doger yang menyegarkan. Bapak itu membungkusnya dengan hati-hati. Tidak lupa dia menyertakan satu sendok plastik. Dengan segera aku ingatkan untuk menambahkan satu sendok lagi. Bapak itu tersenyum dan menyematkan satu sendok plastik tambahan ke bungkusnya. Kemudian aku pun kembali melangkah sembari menyenandungkan hafalan juz amma seperti kemarin. Kali ini aku sudah hafal, dan besok pasti akan baik-baik saja. Dengan hati-hati aku berjalan dan menjaga agar es dogernya tidak mencair.

Tibalah aku di depan pohon rindang, di depan gereja. Aku tetap melangkah untuk duduk di bangku warung. Ibu warung tersenyum dan kembali menata dagangannya. Aku duduk dan menunggu dengan manis. Gelas plastik es doger ku letakkan di samping. Pohon ini cukup rindang, namun paparan matahari dari celah-celah dedaunan membuat es doger ku meleleh. Perlahan aku menggeser tubuhku untuk melindunginya dari sinar matahari.

Tidak berapa lama kemudian kereta tersebut lewat di depan gereja, suara derunya khas dan mudah dikenali dari jauh. Aku menunggu hingga suara tersebut lewat, dan kutatap pintu gereja sekitar 5 meter dari tempatku duduk. Aku menunggu seseorang keluar. Namun, karena pintu yang tetap bergeming, aku memberanikan diri untuk bangkit dari bangku dan bertanya pada Ibu warung. Kemana gerangan anak yang kemarin bermain denganku?

Ibu warung tersenyum dan menyebutkan sebuah nama, untuk memastikan orang yang sedang dibicarakan adalah orang yang sama. Tentu saja ini tidak membantu, karena aku sendiri tidak tahu namanya. Mulutku membulat dan alisku sedikit terangkat saat aku mendengar namanya. Nama seorang anak perempuan. Ibu warung melanjutkan lagi ceritanya, bahwa anak tersebut tidak tinggal di sini. Bahwa dia hanya sedang berkunjung ke tempat pamannya bersama keluarganya. Bahwa kemarin sore mereka berangkat pulang dengan kereta kembali ke rumahnya, yang entah di mana aku tak pernah mendengarnya. Aku terdiam, hatiku sedikit mencelos.

Usai mengucapkan terima kasih, aku pun kembali ke bangku dan mengambil es doger yang ku letakkan tadi. Ku buang satu sendok plastik ke tempat sampah, toh sekarang sudah tidak ada gunanya. Aku berjalan untuk duduk di bawah pohon rindang tersebut. Aku diam sebentar, menyayangkan keterlambatan yang ku alami. Sambil sedikit mengaduk es doger dengan sendok plastik, aku menatap awan dari celah-celah dedaunan. Matahari bersinar terik di atas pohon rindang. Peluh mulai membasahi pipi. Aku nikmati sesendok es doger yang telah mencair.

————————————————–

Cerpen yang tadinya mau dibuat singkat, tiba-tiba jadi 2000an kata. Sebenarnya agak boros. Lain kali harus diperpendek. Buat yang sudah membaca, kisah fiktif ini memang mengandung SARA, tp tidak bermaksud buruk. Jadi, damai-damai saja. Malah sebagai peringatan sebagai orang dewasa untuk tidak mengajarkan hal-hal negatif ke anak-anak.

P.S.

Saya juga suka es doger.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s