Sepenggal Cerita tentang Seorang Ibu di teras Mc’D

Hari itu, 7 Februari 2015 adalah hari yang sepertinya akan cerah. Langit pagi terlihat tenang tanpa tanda ada halangan untuk bepergian. Hari itu hari sabtu, hari dimana biasanya saya ikut futsal di YPKP, rutin dari jam 9 hingga dua jam ke depan. Namun, lagi-lagi minggu itu saya tidak dapat datang. Sudah sebulan saya tidak futsal karena berbagai halangan. Hari ini khususnya karena ada resepsi penikahan teman nanti jam 1.

Lisa dan saya bersiap-siap untuk berangkat sekitar jam 12. Singkat cerita kami berangkat ke resepsi teman kantor tersebut di Galeri Ciumbuleuit Hotel. Langit cerah, tidak ada tanda-tanda akan hujan. Kami masuk ke tempat resepsi di lantai lobi. Ruangan sudah dihias warna-warni dan asri. Tidak jauh, akhirnya saya melihat teman-teman kantor yang juga datang bersama-sama. Oiya, sebenarnya sudah satu bulan saya berhenti kerja karena harus mengurus macam-macam dan bolak-balik Bandung-Indramayu. Waktu itu saya pikir lebih baik sekalian berhenti dulu saja untuk ganti suasana, sekaligus mencari kerjaan lain yang (mudah-mudahan) lebih fleksibel waktunya.

Sumringah rasanya hati saya saat bertemu muka-muka familiar dari Rotterdam CS. Tidak terasa satu tahun sudah dilalui bersama penuh pengalaman unik menarik. Satu tahun di RCS benar-benar penuh warna. Saat bertemu mereka semua, tidak tahan rasanya ingin menjabat dan menyapa. Yap, hari itu adalah hari pernikahannya mas Andry, ya anggaplah bosnya RCS cabang Indonesia🙂.

Ternyata banyak juga alumni Informatika ITB yang datang. Mas Andry alumni IF ITB tentunya mengundang juga sesame rekan-rekannya. Saya sendiri menebak-nebak, yang mana wajah-wajah senior IF angkatan atas.

Pukul 3 sore kami pamitan pulang. Langit mulai gelap pertanda akan hujan. Sekeluarnya dari hotel, ternyata hujan jauh lebih deras dari perkiraan. Sesampainya di Mc’D simpang dago, hujan rintik-rintik tiba-tiba berubah jadi badai angin. Jangankan menyetir motor, melihat jalanan saja sulit. Akhirnya saya memutuskan untuk berteduh di apartemen samping Mc’D. Saya parkir motor dan ajak Lisa ikut berteduh di teras apartemen bersama pengendara senasib yang lain.

Namun agaknya hujan benar-benar deras dan berangin. Saya lihat motor cbr yang diparkir sudah bergoyang-goyang ditampar angin. Takut dengan keadaan seperti itu, saya putuskan untuk memarkirkan motor ke parkiran Mc’D. Saya pikir hujan akan masih sangat lama sehingga kita perlu berteduh. Basah kuyup, akhirnya kami sampai di teras depan Mc’D. Kami berdiri di situ sebentar hingga baju sedikit mengering. Tidak sedikit yang juga berteduh di teras Mc’D. Di samping Lisa, ada seorang ibu berbaju kuning yang dengan sabar menunggu hujan.

Berusaha mencairkan suasana, saya menyapa ibu itu dan berkomentar tentang cuaca yang ganas. Ibu itu menimpali dengan tersenyum. Kami bertukar kalimat sebentar, kemudian saya menyarankan agar Ibu itu masuk saja, yang kemudian beliau tolak. Sesudah itu, dengan bulat kami memutuskan akan masuk Mc’D untuk berteduh. Saya tabrak lagi hujan untuk meletakkan jas ke motor yang diparkir cukup dekat, sesudah itu saya balik lagi. Kami masuk ke Mc’D, Lisa memesan es krim, dan saya secangkir kopi hangat. Mc’D sudah hampir penuh dengan orang-orang yang berteduh. Saya kemudian meminta izin untuk duduk di samping meja bersama-sama dengan pasangan lain.

Perlahan Lisa membicarakan ibu tadi. Rupanya beliau khawatir melihat saya menerjang hujan untuk meletakkan jas ke motor. Tak berapa lama, datang seorang pemuda, mereka mengajak bicara pasangan di depan kami. Setelah pembicaraannya selesai, rupanya pemuda tersebut mengajak bicara kami. Dia menawarkan voucher sumbangan untuk Yayasan Lupus Indonesia. Namun, dasar hati yang sudah penuh curiga, saya menolak tawaran tersebut. Saya berpendapat upaya tersebut hanyalah salah-satu teknik marketing untuk mengiklankan beberapa stand kosmetik dan resto dengan embel-embel voucher potongan harga. Dengan berat hati saya tolak tawaran pemuda tersebut. Terutama karena pemuda itu pun sudah berupaya menjelaskan.

Setelah agak lama dan pakaian mulai mengering, kami keluar dari Mc’D. Kami agak kaget melihat ibu tadi masih berdiri di teras. Untungnya, hujan telah menjadi rintik-rintik. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saya ambil motor yang diparkir, dan saya lihat Lisa mengajak ibu tersebut ngobrol barang sejenak. Kami pun pulang, tidak lupa saya berpamitan pada beliau yang telah menemani sebentar berteduh. Di tengah jalan, Lisa mengatakan sesuatu.

Tahukah kalian mengapa ibu tersebut tidak kunjung pulang? Saat Lisa bertanya, ternyata beliau sedang menunggu anaknya. Lantas dimanakah anaknya? Rupanya ada di dalam Mc’D di lantai atas. Lalu mengapa beliau tidak langsung naik saja dan menunggu di atas? Entahlah, kami tidak tahu dan tidak berani bertanya. Dalam hati, saya bisikkan bahwa saya tidak ingin berprasangka tidak baik. Lagipula mungkin ada alasan yang rasional di balik semua itu. Dengan pikiran-pikiran yang penuh tanda tanya, saya pacu motor ke Sadang Serang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s