Tulisan Nostalgia untuk Kawan Saya Anip Budiman

Kira-kira sebulan lalu teman SD saya meminta nomor kontak saya via Facebook. Saya berikan nomor HP  untuk bertukar kabar. Beberapa hari kemudian saya ditambahkan ke dalam grup WhatsApp yang berisikan teman-teman SD saya. Beberapa minggu kemudian, teman saya ini mengirim undangan pernikahannya lewat chat Facebook. Saya merasa senang sekaligus terharu.

Perkenalkan, kawan baik saya ini namanya Anip Budiman. Dia benar-benar orang yang baik literally seperti namanya, Budiman. Waktu SD saya mengenalnya sebagai orang yang rapih, jujur, bersih, kalem, mudah bergaul, dan banyak titel baik lainnya. Guru-guru pun mengakui ke arifan budinya. Saya menduga namanya berasal dari kata Hanif, yang bisa diartikan orang yang cenderung lurus dan jujur.

Saya tidak langsung kenal Anip sewaktu SD. Pertama kali seingat saya nama Anip disebut ialah saat upacara bendera hari senin. Setiap upacara bendera hari senin, pihak sekolah akan mengumumkan hal-hal yang penting. Kira-kira begini bunyi pengumuman saat itu, “Telah meninggal Ayahanda dari teman kita, Anip Budiman. Mari kita doakan agar amal ibadahnya diterima…” Waktu itu saya belum kenal siapa Anip Budiman.

Sekitar kelas 2 SD, saya baru menyadari keberadaan seorang Anip. Dia mengajak saya bermain saat saya melamun di kelas. Begitulah anak-anak, mudah bergaul dan bersosialisasi. Dari percakapan sederhana itulah saya kenal Anip. Terkadang setelah pulang sekolah, kami bermain di Alun-alun Haurgeulis yang dekat dengan SD kami, SD Muhammadiyah. Alun-alun yang luas sekali menurut anak kecil seperti saya. Kami bermain, berlari-lari, main bola, dan lain-lain bersama teman-teman. Masa kanak-kanak yang cukup bahagia. Anip sering mengajak saya ikut makan lontong kupat tahu saat lapar di pedagang dekat alun-alun. Atau makan pukis kelapa yang akrab disebut “gonjing” dari penjaja sekitar situ.

Anip adalah anak sulung, dan dia punya satu adik laki-laki. Karena saya sering main dengan Anip, adiknya pun kenal saya. Adik Anip juga sekolah di SD Muhammadiyah seperti kami. Saya orang yang suka ngemil saat istirahat. Ketika saya makan cemilan, seperti snack-snack kecil semacam Anak Mas atau batang pasta kering yang diberi bumbu, adik Anip seringkali minta bagian dari saya. Sekolah kami cukup kuat pendidikan agamanya. Dari kecil kami diajari untuk menyantuni anak yatim. Secara definisi, saat itu saya tahu bahwa anak yatim artinya yang sudah tidak berayah. Baru setelah mengenal Anip, saya baru ingat bahwa pengumuman yang dulu saya dengar itu tentang ayahnya. Saya jadi cukup memanjakan adik Anip. Tapi saya tidak berani mengatakan ini dulu. Karena saya takut Anip akan tersinggung dan menyangka saya berteman dengan dia karena dia anak yatim. Saya sendiri berteman dengan Anip bukan karena alasan itu. Tp saya akui, saya tidak keberatan berbagi cemilan saya dengan adik Anip karena saya sendiri jarang melihat Anip jajan. “Mungkin tidak ada uang jajan.” Begitu pikir saya saat itu.

Ada hal yang sangat saya sesali yang saya lakukan terhadap adik Anip. Seingat saya, saya selalu membolehkan adik Anip mengambil sebagian jajanan saya. Namun, suatu hari, saya menolak berbagi. Saya menolak saat dia meminta. Saya memang masih anak-anak. Saya ingin menikmati jajanan itu sendirian, ada keinginan seperti itu. Adi Anip hanya tersenyum saat itu. Mungkin agak sedikit murung karena baru kali itu saya menolak. Esoknya dia tidak berangkat sekolah. Anip bilang dia sakit karena jatuh, atau apalah, saya lupa. Saya berniat berbagi jajanan lagi saat dia sudah masuk. Entah beberapa hari atau minggu kemudian, tiba-tiba saya mendengar kabar bahwa adik Anip meninggal. Karena tumor. Karena operasi. Saya hanya bisa shock. Saya yang waktu itu masih kecil hanya bisa kaget. Sekaligus kecewa bahwa ingatan terakhir yang tersisa dari pertemuan saya dan dia, adalah keegoisan saya untuk menghabisi sendiri jajanan senilai 100 rupiah. Kami sekelas mengunjungi Anip di rumahnya. Rumahnya penuh orang berkabung. Saya tidak berani mencari Anip atau bertemu Anip atau bertatapan mata dengannya. Saya malu. Sungguh saya malu dan kecewa dengan diri saya sendiri.

Anip move on dengan cepat. Entah karena dia masih anak-anak, atau karena dia menjadi dewasa sebelum waktunya dan dapat menyembunyikan perasaannya dengan baik. Life goes on, dan kami melewati masa-masa SD dengan belajar dan bermain. Anip mengajarkan saya banyak hal. Anip adalah contoh nyata orang yang patut diteladani. Kehilangan ayah dan adik tidak membuatnya jadi manja dan meratap, setidaknya itu yang saya lihat. Terkadang saya ikut dia ke pasar, karena ibunya berjualan di sana. Ibadahnya rajin. Saat adzan, dia yang mengajak saya shalat. Dia juga yang mengajari saya membaca Al-Qur’an dengan benar. Seandainya tidak ada Anip, mungkin saya belum bisa baca huruf hijaiyah. Seandainya tidak ada Anip, mungkin saya tidak tahu tajwid. Mungkin saya tidak tahu saktah itu tanda berhenti membaca sambil menahan nafas. Dia ikut madrasah di masjid Al-Furqan, masjid di samping alun-alun, dekat dengan sekolah kami. Dia berangkat madrasah mungkin tiap sore. Sedangkan saya main di alun-alun atau serambi masjid sekaligus menunggu untuk dijemput. Anip sering mengajak saya ikut madrasah di masjid itu, belajar kitab Iqra dan ilmu agama lain. Saya hanya beralasan bahwa rumah saya jauh. Saya hanya menemani dia sambil berlari-lari di masjid.

Anip sedikit banyak membentuk karakter saya yang masih bertahan hingga sekarang. Saya tidak peduli dengan Qur’an, tapi Anip mengajarkan paling tidak cara membacanya dan mengertinya. Saya tidak peduli dengan shalat, tapi Anip mengajarkan paling tidak tata cara shalat dari takbir yang benar, cara duduk tasyahud, sujud, hingga mana rukun shalat dan sunnahnya, berikut perbedaan kalau ada yang pakai do’a iftitah atau qunut. Anip mengajarkan saya untuk membaca di perpus sekolah yang ada di dalam masjid, sehingga saya tahu siapa Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan Abu Bakar. Anip yang membuat saya suka warna biru, karena komentarnya saat saya menyebut warna merah sebagai warna favorit. Banyak kenangan dengan dia yang membuat saya berpikir, seandainya saya tidak pernah bergaul dengan dia, tentu saya tidak akan kenal agama. Terngiang-ngiang di telinga, sebuah peribahasa, “Barang siapa berteman dengan tukang minyak wangi, maka harumnya pun akan ikut menempel.”

Kami tidak menempuh SMP di sekolah yang sama. Saat saya tanya kemana dia akan melanjutkan, Anip menjawab akan melanjutkan SMP di SMP Muhammadiyah, dekat alun-alun. Saat itu, saya tahu bahwa dia tidak berniat melanjutkan ke SMA, tapi ke SMK Muhammadiyah. Yang berarti dia berniat bekerja setelah lulus SMK.

Anip bukan orang yang malas. Dia rajin belajar. Jika di pelajaran Bahasa Indonesia ada kalimat “Budi rajin belajar”, kami tahu, seorang Anip Budiman memang seperti itu. Saya yakin, seandainya ada kesempatan buat dia untuk kuliah, dia akan belajar sungguh-sungguh. Seandainya saya koordinator beasiswa suatu lembaga, saya akan masukkan Anip ke daftar penerima. Sungguh. Hak untuk menuntut ilmu seharusnya jadi milik siapa saja. Saya menyadari benar hal itu. Di desa saya, menuntut ilmu hingga S1 itu hanya mimpi yang bisa dialami oleh pegawai negeri sipil atau pedagang kaya. Tidak hanya Anip. Teman-teman saya yang putra-putri petani juga sudah bersyukur karena ada wajib belajar 9 tahun. Apalagi perempuan, bagi kebanyakan orang di desa, perempuan sekolah tinggi-tinggi pun ujung-ujungnya ke dapur juga.

Saya sudah jarang bertemu Anip semenjak SMA. Kesempatan kami bertemu hanya di bulan Ramadhan. Saat dia pasti ke masjid Al-Furqan, shalat tarawih di sana. Jarangnya komunikasi membuat saya berpikir, apa saya masih dianggap teman? Apa Anip masih kenal saya? Tapi sosok Anip akan selalu saya kenal sebagai orang yang telah membuat hidup saya lebih baik, mental maupun spiritual. Saat chat berisi undangan itu saya terima, saya hanya bisa terharu. Sungguh terharu saat saya tahu bahwa saya masih diingat. Apalah saya ini. Namun saya sangat senang saat saya mendengar nama panggilan saya disebut lagi, “MN”, yaitu inisial nama tengah dan nama belakang saya. Saya langsung niatkan bahwa saya akan datang ke acara itu. Dimanapun itu akan saya usahakan datang.

Tanggal 27 April lalu, berbekal alamat dan dengan disupiri kenalan bapak saya, saya datang ke tempat akad di Subang. Saya masuk ke gang tempat acara walimahan itu berlangsung. Saya duduk di tempat yang agak jauh, mengamati sang mempelai pria dari jauh. Dalam hati, nyali saya kecut. Berani-beraninya saya menampakkan diri di sendiri. Saya harus ngomong apa? Kepala saya sudah sedari tadi memerintahkan untuk pulang. Namun akad belum dimulai. Sementara saya harus sudah pergi ke Bandung sebelum tengah hari. Ibu saya mengingatkan melalui sms untuk tidak usah terlalu lama. Akhirnya saya beranikan diri untuk mendekat ke arah mempelai pria yang sedang harap-harap cemas. Dia tertegun sejenak lalu tersenyum kaget. “Kok bisa tahu tempatnya?” “Wah tamu tak terduga.” Kami berjabat tangan lama. Kebiasaan saya kalau kangen dengan orang atau ingin mempertahankan kontak mata lebih lama. Dia memperkenalkan ulang saya dengan ibunya, yang langsung ingat setelah diungkit-ungkit sebentar.

Maaf, Nip saya ga bisa lama-lama dan melihat akadnya berlangsung. Tapi saya sudah sangat bersyukur bisa bertemu lagi, meski dengan suara gagap, namun hati saya bahagia. Jika entah dengan petunjuk apa engkau membaca tulisan ini, saya ingin kamu tahu bahwa saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah kamu berikan untuk saya. Salam sehat selalu. Jika ada impianmu yang kandas karena cobaan dari-Nya, wariskanlah ke anak-anak dan keluargamu. Berikan keluargamu yang terbaik. Jadilah Ayah yang baik dan teladan. Jangan biarkan anakmu menjadi yatim di usia dini sepertimu. Jangan biarkan istrimu jadi janda seperti ibumu. Jagalah kesehatan. Manusia bisa berencana dan berusaha baru kemudian pasrahkan semuanya pada Tuhan.

Selamat menempuh hidup baru, Nip. Perjalanan baru saja dimulai. Semoga engkau diberkahi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga engkau selalu dalam lindungan rahmat-Nya. Amin.

 

Dari teman kecilmu,

Rizky Maulana Nugraha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s