Sekerat halaman untuk seorang teman

Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Hi, apa kabar di sana? Aku tahu, mungkin di tempatmu tidak ada internet. Aku tulis ini supaya suatu saat entah bagaimana kau akan membacanya. Tadi pagi aku bermimpi hal yang aneh sekali. Mimpi itu membekas hingga sekarang. Sangat jelas, seperti cerahnya matahari di negeri tak berawan. Aku akan ceritakan sedikit. Sedikit saja.

Pagi tadi aku bermimpi. Mimpi sedang mendengar khutbah jumat. Aku duduk di luar masjid. Bahkan beralaskan tikar di atas tanah. Jamaah hari ini sangat banyak. Banyak sekali hingga membludak. Di masjid seluas itu, bagian dalamnya penuh dengan orang2. Aku hanya kebagian emperannya saja, di atas tikar dan rumput. Hey, jika sekarang dipikir-pikir, tentu kau ada di shaf paling depan? Biasanya kau di situ kan? di shaf paling depan, pojok paling kanan atau paling kiri. Yah, kau tidak suka melewatkan kotak kayu yang biasa diedarkan saat shalat jumat itu. Kau bilang itu mengganggu, dan tidak ada dalam sunnah. Tentu itu kalau kau hadir di mimpiku tadi pagi, tapi aku tidak melihatmu. Mungkin karena aku terlalu jauh di luar.

Sesaat setelah khutbah selesai, wudhuku batal. Aku dengan susah payah keluar dari kerumunan shaf dan mencari tempat wudhu. Namun, ada yang aneh saat aku wudhu. Tiba-tiba jemariku bernoda tinta dan tak kunjung hilang. Aku tidak tahu itu najis atau apalah, tp aku berusaha membersihkan noda itu hingga bersih. Susah sekali, dan lama. Namun, setelah aku selesai. Shalat jumat telah usai, dan aku panik karena aku belum shalat. Aneh kan mimpiku ini? Temanku bilang, itu mungkin mimpi dari Allah. Tp, yah, siapa tahu?

Jadi bagaimana kabarmu? Masih ingatkah saat pertama kali kau munculkan batang hidungmu di depan kelas kita? Kelas 2 SMA. Oh, dulu mereka menyebutnya kelas XI. Seperti kebanyakan orang, aku tertarik dengan istilah transfer student, dan tertarik untuk memperhatikanmu. Perkenalan yang kau lakukan pada kami cukup kacau dan kontroversial. Kau buat seluruh kelas mungkin hampir-hampir membencimu. Hahaha. Lucu sekali. Namun, seperti biasa aku dan teman sebangkuku berusaha memutar opini kelas agar lebih lembut denganmu. Kau mungkin tidak tahu, tapi yah, itulah yang biasa kami berdua lakukan sejak kelas X, memutar opini di belakang layar, dan menggali informasi.

Ingatkah waktu kita berdua pertama kali berbincang sambil berkeliling kota sedang berjalan kaki? Kita membicarakan topik yang menurutku hangat dibacarakan orang dr kota sepertimu. Kau membicarakan game online yang pernah kau mainkan dengan antusias, ragnarok online, DoTA, atau apalah yang waktu itu tidak pernah kubayangkan akan dapat aku mainkan. Tp hey, lihat, sekarang aku main DoTA lho. Betapa nyambung kita membicarakan hal itu. Kau banyak menceritakan game-game yang bahkan belum pernah kumainkan. Aku punya tambahan teman berbincang, yaitu kamu. Sebelumnya hanya satu orang teman cewek yang nyambung diajak ngobrol seperti itu. Namun, tentu aku agak kurang nyaman berbincang dengannya. Sangat merepotkan jika tiba-tiba muncul gosip yang tidak diinginkan. Yah, kau pasti mengerti lah.

Setelah beberapa bulan aku cukup mengenalmu. Beberapa sifatmu sudah bisa kuprediksi. Namun, ada turning point yang entah mengapa menurutku mengubahmu 180 derajat. Atau mungkin aku belum mengenalmu terlalu jauh. Entah sejak kapan, engkau tiba-tiba menyendiri, diam, tak berkata apapun. Kemudian aku tahu ternyata kau membaca-baca kumpulan hadits.

Hey, masih ingatkah? Kita ke perpus umum depan sekolah. Berusaha membaca sebanyak mungkin rangkuman hadits Bukhari. Kita bagi tugas membaca bab yang berbeda, kemudian kita diskusikan. Itu adalah hiburan yang cukup menyenangkan. Ah kau ingat? Kita melakukannya bertiga dengan Toha juga. Sungguh menyenangkan membacanya setelah penatnya membaca kitab kalkulus dan buntalan Halliday-Resnick. Betapa menariknya membaca fakta-fakta unik dan menarik seputar sahabat nabi, dan kisah-kisah yang mereka lalui. Betapa menariknya membaca hal-hal kecil yang kita pikir tidak akan terjadi, seperti tentang sepatu, tempat air minum, ataupun perhiasan emas. Betapa menantangnya membaca secuil harapan kisah cinta Ali dan Fatimah, dan riwayat pernikahan Utsman bin Affan. Betapa bergeloranya membaca kisah-kisah perjuangan Abu bakar, Umar dan Rasulullah di kala perang Uhud. Namun, semua itu berubah di saat kau tunjukkan sepotong hadits kecil yang tidak aku sangka akan ada dan terselip di dalam kumpulan hadits yang disusun Bukhari, dalam kitab yang katanya tershahih kedua setelah Al-Quran.

Sepotong hadits tersebut membuatku kehilangan arah. Sebagian hati ini ingin tidak percaya dan sebagian hati ini percaya. Sementara engkau, aku yakin engkau maju terus berusaha percaya dan mengamalkannya. Namun, tidak semua orang semengerti itu. Sangat sulit buatku melihat kau berdebat dengan orang lain. Aku tahu yang kau bicarakan itu benar dan memiliki dasar. Namun cara yang kau lakukan sangat tidak pantas menurutku. Namun, aku juga tidak pantas berkata seperti itu. Karena aku tidak lebih seperti orang hipokrit yang denial dan tidak bisa dan tidak mau menerima hal-hal yang sudah jelas tidak kuragukan kebenarannya. Sepotong hadits itu begitu mengguncang nalar dan iman, hingga aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun, dan membuatku jadi sekarang seperti ini.

Masih ingatkah kamu saat kita jalan-jalan di makam itu? Kita hanya duduk memandangi makam-makam. Kau bilang jika kita dekat dengan kematian, kita akan sadar dan menyadari mana yang sebenarnya yang hal-hal yang penting. Aku hanya diam, dalam hati mengiyakan, namun tak bisa mengikuti. Karena kebodohan dan kehipokritan sudah mengunci hati ini. Semenjak itu, engkau bersikap yang menurut orang lain (dan mungkin aku) makin kacau dan tidak bisa ditolong lagi. Atau mungkin sebenarnya aku yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Kau (menurutku) sia-siakan beasiswa yang diamanatkan kepadamu dan cabut dari kampus ini, terlepas dari semua hiruk pikuk duniawi untuk mencari (yang kau bilang) ilmu. Suatu saat nanti ingin sekali kuhajar mukamu itu karena telah membikin beberapa orang yang dekat denganmu repot dan khawatir. Ingin sekali kuberikan tamparan ke mukamu itu karena telah membuat beberapa perempuan khawatir, atau mungkin sakit hati. Sumpah, ingin sekali aku lepas kontrol dan melakukan itu. Namun, sayang kepalaku tetap dingin dan menghargai keputusan yang kau ambil.

Aku setuju jika kau menghindar dari kekacauan duniawi. Interaksi dengan orang lain hanya akan membuat pihak yang lain kesal denganmu. Cukuplah kau menyendiri. Aku dengar kau pergi ke pesantren setelah cabut dari kampus ini. Bagus lah, lebih baik begitu dan berikan uang negara beasiswamu kepada yang lebih berhak. Itu lah yang ingin kukatakan saat teman-teman memberi kabar kalau statusmu sudah tidak jelas di kampus. Tidak usahlah orang-orang mencari kamu, karena aku yakin kau lebih senang menyendiri tanpa diganggu. Aku tahu betul itu. Bertapalah terus hingga pribadimu bisa lebih baik lagi, dan itu tercermin dari tidak hanya yang kau ketahui, tapi yang tertanam karena pengetahuanmu itu.

Aku hanya ingin berpesan, kawan. Aku tahu kau eksentris, unpredictable, and adventurous. Tapi, tolong, ini bukanlah hal yang bisa kau kuasai hanya dengan rasa penasaran. Ini bukan tes ujian SMA yang nilainya bisa kamu kontrol ingin kau dapatkan di nilai tepat 50. Ini bukan game yang bisa kamu kuasai hanya dengan bereksperimen. Ini bukan wanita yang bisa kamu sentuh dan permainkan perasaannya. Ini bukan kertas ujian soal kimia yang bisa kamu jawab dengan membalikkan tulisan agar dosenmu harus membacanya di cermin untuk memeriksa essaymu. Kau bilang sekarang kau sedang menghafal Qur’an? Aku hanya berpesan, jangan hanya menghafal. Aku yakin kamu bisa hafal. Aku yakin. Aku yakin seratus persen itu semudah kamu belajar menjadi ambidexter. Tapi Qur’an bukan sekedar untuk dihafal. Tolong amalkan ini dengan baik-baik. Sehingga apabila ada orang yang melihat kelakuanmu yang mungkin tidak berkenan, dia tidak akan menyalahkan hafidzah lain karena melihat stereotype dirimu. Amalkan ini dengan sungguh-sungguh, agar tidak ada orang yang salah sangka dengan Islam karena melihat hal-hal yang kau lakukan. Aku tahu, apalah pesan ini yang keluar dari mulut seorang hipokrit. Tp, aku dengan tulus berpesan seperti itu karena aku yakin kau bukan hipokrit.

Sekian salam dariku. Aku berharap Allah akan mengatur sedemikian rupa sehingga suatu saat aku akan dapat menemukanmu, paling tidak untuk memberikan kabar, dan mengingatkanmu akan janjiku yang pernah kuucapkan di tengah belantara persawahan dan gelap gulitanya malam. Aku akan tunjukkan.

Bandung, 28 Februari 2014
di tengah malam saat engkau biasa tahajjud

3 thoughts on “Sekerat halaman untuk seorang teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s