Tragedi Pemboman di Boston

Sebenarnya ini tulisan yang sudah agak lama dan beritanya sudah tidak hangat lagi🙂. Tulisan ini dibuat tepat sehari setelah peristiwa pemboman tersebut pada tanggal 15 April 2013. Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan saya kalau ada saja orang yang bisa melakukan hal seperti ini tanpa alasan yang (menurut saya) sangat lemah dan tidak berdasar.

Image

sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/File:2013_Boston_Marathon_aftermath_people.jpg

15 April 2013

Hari ini saya bangun cukup pagi, sekitar pukul 7. Biasanya setelah shalat shubuh saya langsung tidur lagi dan baru bangun sekitar pukul 10, tapi seringnya malas-malasan lagi hingga pukul 12 atau 1. Akhir-akhir ini saya memang sering tidak tidur malam karena kutukan profesi sebagai programmer yang tidak juga hilang. Namun hari ini saya bangun cukup pagi, meskipun saya tahu beberapa jam kemudian mungkin saya bakal tepar lagi. Sebelum saya benar-benar sadar, saya membuka twitter untuk pemanasan mata. Alasan lainnya juga karena saya ingin memberitahukan pada dunia bahwa tadi malam terjadi obrolan yang cukup berkesan di antara teman-teman yang datang ke markas Phinisi. Namun, ada berita yang sedang panas yang terbaca oleh saya, berita dengan hashtag #prayforboston. Selancar kemudian, saya baru selesai membaca berita tentang pemboman di Boston saat sedang dijalankannya event lari marathon di sana. Saya pun terhenyak…

Marathon… Anda bayangkan… Olahraga lari marathon… Apa sih olahraga lari marathon? Lari marathon terdiri dari dua kata, yaitu berlari dan marathon. Kegiatan lari marathon adalah kegiatan dimana pesertanya berlari bersama-sama peserta lain menempuh jarak yang cukup jauh. Olahraga ini sendiri berasal dari legenda di Yunani sana tentang seorang pembawa berita yang berlari tanpa henti menempuh jarak yang cukup jauh untuk membawa berita perang, dan larinya bolak-balik. Anda dapat membacanya sendiri latar belakang lari marathon. Saya tidak akan membahasnya disini.

Setelah Anda mengerti apa itu marathon, sekarang Anda hubungkan olahraga tersebut dengan bom. Apakah ada koneksi? Apakah ada keterkaitan? Teroris melakukan pengeboman di pusat ekonomi, itu wajar. Teroris melakukan pengeboman di pusat politik atau kedubes, itu wajar. Lah ini? Bom dipasang di jalur pelari marathon? Apa sih salah yang lari? Peserta lari dari berbagai tempat, dan mereka cuma… well, lari… Saya tidak mengerti mengapa mereka jadi target pengebomans atau mungkin yang masang bom cuma salah tempat saja? Miris sekali memang saat saya melihat foto-fotonya di twitter. Ada yang memeluk kekasihnya yang jadi korban, ada anak kecil juga, wah… sudahlah… Dalam hati, saya agak-agak mengutuk si pelaku yang melakukan pengeboman tanpa alasan dan tujuan yang jelas tersebut.

Kemudian, pagi itu berlalu seperti biasa. Saya disibukkan oleh agenda adik saya yang mau masuk PTN tahun ini. Saya berkeliling untuk mencari kosan perempuan di sekitar pelesiran, dan ke Neutron juga yang ada di tamansari. Saya berkeliling ditemani Lisa yang sebagian besar memulai percakapan dengan ibu-ibu kos. Sebenarnya itu sebagian besar karena saya tipe orang yang tidak bisa, atau boleh dibilang terlalu malas untuk memulai percakapan. Elemen percakapan saya pasti langsung to the point, tanpa basa-basi. Kalau tempatnya menurut saya sudah tidak cocok, saya pasti langsung malas untuk melanjutkan pembicaraan. Padahal mungkin kalau dikorek lebih jauh, kita bisa dapat informasi lain, misalkan tempat kos yang lain. Nah, kebetulan saya mengandalkan (baca: memanfaatkan) dia untuk hal yang satu ini.

Sewaktu berkunjung ke Neutron juga sama saja. Saya yang tidak punya pengalaman dengan bimbel-bimbel, kebingungan untuk mengajukan pertanyaan apa. Kebetulan Lisa yang sudah pernah ikut bimbel (di GO) bisa tahu hal-hal apa yang perlu ditanyakan. Yah, akhirnya setelah mendapatkan informasi, saya pun langsung memberitahu ortu dan adik saya tersebut.

Malamnya, kami masih sempat ngobrol, di saat dia sudah agak mengantuk, saya pun bilang kalau saya masih punya tanggungan ngoding yang mesti diselesaikan, dan ngodinglah saya. Biasanya dia akan merasa dicuekin kalau saya sudah konsentrasi berhadapan dengan laptop. Namun kali ini dia ceria-ceria saja. Kemudian, mungkin karena suara ketikan jemari saya di keyboard kedengaran, pada saat suara keyboard tersebut berhenti, tiba-tiba dia memanggil dan berkata:

“Ril, udah tahu belum tentang pemboman di Boston?”

Saya diam sejenak. Sebenarnya lebih karena bingung. Karena biasanya saya bisa menebak jalan pikiran dia dan apa yang hendak dia katakana berikutnya. Namun, kali ini saya blank. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengungkit-ungkit tentang Boston. Kadang-kadang saya diam saat ditanya dengan maksud untuk menggoda biar disangka dicuekin, karena ekspresi muka saya kan tidak bisa dia lihat kalau ngobrol di telepon. Yah… meskipun kadang-kadang memang dicuekin juga sih. Namun, memang benar-benar saya tidak mengerti kali ini, kenapa Boston diungkit-ungkit. Akhirnya setelah dua detik menganalisis, saya menyerah.

“Iya, tahu, yang kemarin pagi kan? Yang di acara marathon? Kenapa gitu?”

Kemudian dia diam sejenak juga, dan akhirnya bersuara:

“Kasihan ya, para pelari-pelari tersebut kehilangan kaki.”

Sampai di sini, saya mengerti maksudnya. Para pelari tersebut sedang mengikuti event marathon untuk melakukan hal yang dia sukai, mungkin ada yang hobi, mungkin juga ada yang atlit, yang masa depannya dia investasikan pada kaki tersebut. Namun, event tersebut malah merenggut kaki mereka, hobi mereka, sesuatu yang mereka sukai dan lakukan selama ini, dan bahkan nyawa mereka atau nyawa orang-orang yang mereka kasihi. A very sad truth, and very ironic. Kalimat tersebut penuh berisi empati, pada para korban. Bahkan saya yang mendengarnya pun tiba-tiba ikut merasakan kalau ada di posisi si pelari korban peristiwa tersebut. Kemudian, tentu saja saya berkata:

“Iya, emang kasihan. Salah apa coba yang orang yang lari tersebut? Mereka cuman lari kok.”

Kemudian hening menyusup sebentar, saya akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Kenapa tiba-tiba kepikiran tentang Boston?”

Jawabannya, tidak saya duga sebelumnya. Kira-kira begini yang dia katakan.

“Kepikiran aja, kalau itu tangan Ril… Atau, jangankan tangan Ril, jemari Ril aja yang hilang karena bom,  Ril mau ngoding gimana? Apa Ril masih bisa melakukan hal yang Ril suka?”

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kalimat yang saya ucapkan berikutnya hanya, “Kok bisa kepikiran kayak gitu?” Seolah saya ingin menunjukkan bahwa, ya, saya bisa berempati, namun tidak sampai ke level asosiasi seperti itu. Percakapan itu hanya menunjukkan kalau, korban dan kita pun bisa saja mengalami hal yang berbeda, namun dengan esensi yang sama. Kita kehilangan apa yang kita perjuangkan dari dulu, dan tiba-tiba kita tidak dapat melakukan hal yang kita suka. Mungkin seandainya saya kehilangan tangan dan atlit-atlit itu kehilangan kaki, kita kehilangan organ yang berbeda. Namun, kita kehilangan sesuatu yang secara esensi sama. Percakapan ini mengajarkan saya cara berempati yang berbeda dari yang saya kenal sebelumnya. Mungkin kita tidak hanya harus “merasakan” bagaimana jika kita di posisi para korban, tapi bagaimana jika kita juga mengalami musibah yang secara esensinya mengakibatkan hal yang sama, meskipun dari peristiwa yang bisa saja berbeda :’). Dengan begitu, kita bisa lebih memahami perasaan korban dengan lebih baik lagi, dan bertindak dengan cara yang lebih baik pula. Semoga kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan dan membuat dunia ini menjadi lebih layak untuk disinggahi😀

#prayforboston

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s