About Facebook

Ada beberapa hal yang ingin sekali saya bicarakan tentang Facebook. Banyak hal yang merupakan kesan-kesan pribadi selama menggunakan social network ini. Please note that these are just my random thoughts about Facebook. Artikel ini mungkin tidak terlalu berbobot secara intelektual, namun mencerminkan perasaan saya sebagai pengguna Facebook.

Era Friendster

Semua ini dimulai ketika saya mulai bisa secara bebas “menyentuh” internet sendiri, yaitu saat saya SMA. Kampung halaman saya sangat terpencil, dan koneksi yang ada hanya dial-up dari telepon, itupun mahal dan lambat. Berbeda terlalu jauh jika dibandingkan dengan generasi sekarang. Sehingga, pada saat SMA, itu salah satu momen “wow” saya, saat saya berkenalan dengan internet secara lebih “akrab”. Social network yang populer saat itu adalah Friendster.

Buat yang tidak tahu apa itu Friendster, saya akan coba jelaskan berdasarkan persepsi saya saat itu. Friendster adalah social network yang memiliki visi sebagai halaman web personal usernya. User dapat meletakkan background apapun, konten apapun, musik apapun, dan profil seperti apapun di halaman muka user nya. Memang, user punya kebebasan untuk mengelola websitenya sendiri, kita juga bisa punya jaringan teman dengan cara add friend ke halaman/pengguna Friendster lain. Yah, ga beda-beda jauh dengan fitur Add Friend Facebook. Namun, kebebasan yang dimiliki user hampir tidak berbatas. Hasilnya adalah : Chaos. Ada halaman user yang namanya sangat kacau dan sulit dibaca (mungkin ekspresi diri), ada juga yang kontennya udah kacau banget, sampai-sampai saya yang kurang paham dengan teori warna pun bisa bilang kalau warna background dengan tulisannya itu nabrak banget. Pokoknya kacau banget lah.

Saat itu saya berpikir bahwa Friendster itu tidak ada gunanya. Okelah, membernya banyak banget, dan kita bisa Add Friend juga. Tapi apa gunanya punya koneksi kayak gitu??? Saat SMA sebenarnya situs Facebook sudah muncul. Tapi tentu saja saya yang terasing dari dunia internet ini tidak tahu menahu.

The Blue Rises

Saya pertama kali berkenalan dengan Facebook saat saya kuliah. Saat itu, tampilannya sudah bagus dengan nuansa biru yang cukup elegan (saya juga suka warna biru). Awalnya saya tidak paham saat teman-teman TPB saya meminta saya untuk membuat akun Facebook. Dari namanya, saya tidak bisa menebak kalau itu nama jejaring sosial. Saya pikir malah aplikasi untuk membuat catatan di web (maklum, ada buku-bukunya). Namun akhirnya saya daftar Facebook pada tanggal 1 Februari 2009.

Pertama kali saya menggunakan Facebook, saya senang. Akhirnya ada situs yang bisa saya isi dengan koneksi pertemanan yang cukup rapih. Namanya juga rapih-rapih. Saya berpikir, seperti inilah harusnya kita menggunakan teknologi. Untuk mempermudah hidup. Lihat-lihat informasi pertemanan bisa cukup mudah, dan mudah juga mendapatkan teman baru, atau paling tidak, tahu mukanya. This is the real Social Network.🙂 Saya secara pribadi banyak menyarankan ke orang-orang yang saya kenal untuk mendaftar Facebook. Sekadar untuk men-track mereka sedang ngapain, ada berita apa, dan lain-lain.

Penambahan Fitur di Facebook

Facebook kemudian menambahkan fitur-fitur lain dengan sangat cepat, seperti group, chat, wall post, timeline. Atau mungkin lebih tepatnya membuat saya mencoba fitur-fitur tersebut. Tentu saja ada fitur yang sudah ada sebelumnya, namun saya sendiri lupa. Yang jelas, secara pribadi, saya jarang menggunakan fitur tersebut untuk mengekspresikan diri. Seperti fitur wall post/timeline, notes, photos, album, dan lain sebagainya. Saya cukup menggunakan Facebook untuk memperoleh informasi (seputar kuliah di grup misalnya) atau berkomunikasi dengan orang lain.

Pada tahap ini pengguna Facebook di Indonesia sudah sangat banyak, namun belum diimbangi dengan persebaran koneksi internet yang cukup memadai. Berhubung saya di ITB yang ada jaringan internet sendiri (yang sangat kencang untuk ukuran saya), saya tidak terlalu menyadari bahwa persebaran koneksi internet kurang merata. Padahal layanan Facebook memiliki demand yang tinggi. Bahkan saya sempat berpikir, kenapa Facebook tidak melirik negara kita yang penggunanya banyak banget ini, mungkin sekadar untuk buka kantor cabang, hahaha…

Seiring dengan bertambahnya popularitas Facebook, saya mengamati makin banyak use dan misuse yang dilakukan pengguna pada layanan ini. Seperti Apps, nama-nama yang makin alay dan ga jelas. Semacam itulah. Facebook berkembang dengan cepat, dan penggunanya juga mulai berubah menjadi komunitas yang mulai meng-abuse layanan social feed ini. Banyak yang mempost status no mention galau di timeline yang muncul di feed orang, ada kasus diskredit yang tidak mempedulikan etika online, dan macam-macam lagi. Sebagian, menurut saya karena kebanyakan pengguna baru tidak diajarkan untuk apa sebenarnya teknologi ini dibuat. Teknologi ini ada bukan untuk menggunjingkan dan mengekspos aib-aib orang lain yang entah siapa orangnya. Bukan pula sebagai ajang untuk cari perhatian, bukan pula untuk mempos foto-foto dan tulisan yang, maaf, kurang pantas dilihat dan dibaca. Perlahan-lahan nilai-nilai penggunaan layanan ini bergeser dari norma-norma sosial yang sudah ada sebelumnya. Hanya sebagian user yang bertahan menggunakan Facebook untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Sebagiannya lagi agak “menyimpang” sehingga mengaburkan norma-norma sosial yang sudah ada. Akibatnya, sekarang sulit dibedakan mana tulisan yang perhatian dengan kepo, mana yang  puitis dengan galau, mana yang romantis dengan cari perhatian. Tulisan yang so sweet jadi dibilang cari perhatian gara-gara pengguna jadi sulit membedakan mana yang tulisan galau dengan bukan. Akibatnya, dari semula pengguna yang memiliki kebebasan berbicara secara penuh, sekarang menjadi sedikit takut untuk berbicara hal-hal yang bermanfaat. Ironis memang, tapi saya sendiri juga heran kenapa bisa begitu. Nilai-nilai sosial mana yang benar sulit dibedakan dengan mana yang seharusnya tidak usah dilakukan.

Masa Mapan

Saat ini, saya pikir Facebook sudah dibilang mapan. Facebook sudah memiliki banyak pengguna setia dan mungkin akan masih bertambah secara teratur. Saingan juga tidak terlalu banyak. Friendster sudah mati entah sejak kapan dan di-reboot oleh Malaysia menjadi layanan yang berbeda. Twitter yang punya banyak user juga, namun memiliki target penggunaan yang berbeda. Google+ yang saya akui punya desain user interface yang lebih “indah” dan “elegan” dan fitur-fitur yang imba dengan google service lain… namun masih jarang yang menggunakannya secara aktif di lingkungan pertemanan saya. Facebook bisa dibilang sudah mapan, dan saya sendiri masih menunggu fitur-fitur hebat dan unik semacam, graph keluarga, atau graph kedekatan pertemanan misalnya. Itu menarik kan? Namun, Facebook hingga sekarang memberi fitur yang menurut saya agak “kurang” berkesan.

Hal yang kontroversial misalnya adalah Facebook Timeline. Dari dulu saya masih ga paham (dan saya rela dibilang bego atau goblok karena ga ngerti) apa sih perbedaan yang signifikan antara timeline sama wall post??? Entah mungkin saya yang gagal mengambil manfaatnya atau gimana, tapi Timeline di mata saya hampir sama kayak a series of wall post. Ya mungkin itu fitur yang bagus, tapi sayanya aja yang bego ga bisa mengambil manfaat.

Namun, saya setuju kalau Facebook tidak usah terlalu mendengar keinginan penggunanya. Misalnya di kasus tombol Dislike yang diminta banyak orang itu. Tindakan yang bagus dari Facebook karena tidak menuruti permintaan tersebut. Saya membayangkan kehidupan sosial dunia maya bisa jadi sangat hancur dan sinis. Bisa saja semua orang mendiscourage orang lain hanya menggunakan tombol dislike. Waduh… kacau banget kalau tidak kekontrol. Sama aja kayak demo dari amukan massa. Kacau.

Facebook juga menelurkan fitur lain yang cukup menarik yaitu graph Search, yang sebenarnya adalah semacam query dengan perspektif orang dan hubungan sosial. Secara pribadi, saya merasa ini adalah ide jenius… Saya tidak melihat dari nilai tambah bahwa dengan Graph Search, Anda bisa stalking orang dan cari jodoh dengan lebih mudah, tapi saya lebih menghargai dari cara orang-orang di Facebook berpikir. Facebook memperkenalkan saya tentang cara berpikir baru, yaitu perspektif sosial. Graph Search memperkenalkan cara melakukan query dengan fokus pada sisi hubungan sosial. Jika Anda masih bingung dengan apa yang saya bicarakan. Saya akan coba berikan ilustrasi.

Saat menggunakan Google pada awal-awal dia muncul, saya pribadi memberikan query dalam bentuk keyword. Karena yang saya pikirkan begini: Saya ingin mencari situs yang mengandung keyword ini dan itu, dan tidak mengandung anu. Ini perspektif keyword. Karena secara sadar, saya langsung mencari situs yang memiliki kriteria keyword tertentu.

Namun, sekarang, cara saya menggunakan Google tidak seperti itu lagi. Google telah mengubah cara saya men-demand informasi. Sekarang yang saya tulis di query Google bukan keyword, tapi benar-benar kalimat tanya. Saya ketik, Bagaimana cara membuat anu menggunakan anu, atau Siapakah orang yang bernama fulan, atau Dimana daerah antah-berantah berada. Saya sebut ini perspektif informasi. Karena, kita memberikan query dengan fokus kepada informasi seperti apakah yang ingin kita dapatkan, dan tidak terikat lagi dengan keyword yang mungkin justru itu yang kita tidak tahu.

Kembali ke Facebook, lalu apa Graph Search? Apa yang menarik? Seperti dua contoh sebelumnya, perspektif pencariannya berbeda. Saya yang kebetulan bisa mencoba Graph Search sejak hari ini, mengambil kesimpulan bahwa Graph Search memiliki perspektif hubungan sosial dalam query pencariannya. Artinya, jika google tadi, kita fokus pada informasi, sekarang kita fokus pada orang. Jadi bisa saja kita tidak tahu “orangnya itu seperti apa”, tapi kita bisa mencarinya menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Sama halnya ketika kita bertanya pada Google, Bagaimana cara menambal ban, yang mungkin kita tidak tahu sebelumnya proses menambal ban itu seperti apa, terdiri dari tahapan apa saja, dan butuh bahan apa. Sama halnya dengan Graph Search, saat kita bertanya, Siapakah teman dari teman saya yang cewek dan sama-sama suka nonton film. Kita tidak tahu siapa saja yang akan ditampilkan oleh Facebook, namun dari daftar orang yang ditampilkan itu, kita bisa tahu kesukaannya apa, film favoritnya apa, kenapa dia suka film tersebut, apakah dari background keluarganya, pacarnya, saudaranya, lingkungan belajarnya, lingkungan temannya seperti apa, bahasa literalnya seperti apa, mantannya siapa saja, fotonya bagaimana, umurnya berapa, tanggal lahirnya apa, tinggal dimana, temannya siapa, DAN ITU SEMUA INFORMASI YANG SANGAT BERBAHAYA…

Anda mungkin menganggap sepele hal ini. Tapi, sekali lagi, ini bukan hal yang sepele menurut saya. Hanya dengan kriteria singkat sederhana, seseorang bisa saja secara tidak sengaja mendapatkan informasi pribadi ANDA. Anda bahkan mungkin sedang distalk sekarang jika Anda populer, atau teman Anda, atau mungkin teman dari teman Anda. Hanya dengan query sederhana, orang lain bisa tahu dengan jelas latar belakang, sifat serta watak Anda. Ini bahaya, karena teknik dasar penipuan Social Engineering adalah dengan cara mengetahui informasi tentang target sebanyak-banyaknya untuk membuat target percaya. Semua informasi pribadi Anda dapat terbuka secara publik, bahkan pada pemerintah sekalipun. Oleh karena itu, Anda harus pandai-pandai membatasi identitas mana yang boleh orang lain tahu. Tidak semua orang bertanggung jawab saat mengetahui data diri Anda. Kalau orangnya tidak bertanggung jawab, bagaimana? Bagaimana kalau ada agen rahasia sedang mencari Anda? Gampang dong, bisa langsung tahu kenalan Anda dan orang-orang terdekat Anda jika data diri Anda tidak Anda lindungi. Bahkan hasil Graph Search saya sudah hampir menjadi agregasi data pribadi Anda. Sebuah perusahaan bisa langsung menjudge karakter dan watak Anda, dll.

Kemudian, inovasi lain yang menarik yang dikeluarkan Facebook baru-baru ini adalah Facebook Home, yang sayangnya versi betanya belum bisa dipakai di negara ini. Facebook Home juga memiliki perspektif yang sama, yaitu cara menggunakan smart phone Anda dengan fokus pada hubungan sosial. Jadi Anda bisa lebih mudah mencari dimana teman Anda berada, sedang apa, statusnya apa, dan bahkan bisa langsung berkomunikasi dengannya. Pendekatan ini cukup unik, karena bisa saja cara Anda menggunakan Smart Phone Anda berubah. Misalnya, saat sedang berada dimana, Anda bisa langsung tahu teman-teman Anda yang berada di sekitar situ. Atau, saat teman Anda mempos status sedih atau urgent, Anda bisa langsung berreaksi (halah)….

Oke… Ini tulisan yang cukup panjang… Kita sudahi saja sampai di sini.

Intinya, saya hanya ingin memberi pesan, pergunakanlah teknologi dengan bijak. Karena teknologi itu berfungsi mempermudah urusan Anda, jadi pakailah dan manfaatkan fungsinya dengan baik dan benar

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s