Probabilitas Event Kegagalan Sekuensial… dan Kartu ATM

Wah, wah. Ada apa dengan judul yang provokatif ini? Sebelum pembaca berpikir macam-macam, saya berikan penjelasan bahwa ini adalah kisah tentang kegagalan beruntun yang terjadi pada saya hari ini. Bisa dibilang sial memang, tapi toh, kalau peristiwa tersebut sudah lewat, saya malah tertawa-tawa saat mengingatnya.

Hari ini saya makan baso di daerah Jalaprang. Maklum, saat itu saya sedang sangat laparnya. Bersama dengan teman saya Dimas, kami pun makan baso Malang sambil ngobrol-ngobrol. Selesai makan dan saat hendak membayar, saya bertanya ke ibu-ibu yang menjual baso tersebut. Kemudian saya diberi tahu bahwa harganya 22 ribu rupiah.

Saya langsung merogoh kocek dan mengumpulkan uang 11 ribu rupiah. Eh, tidak tahunya ternyata 22 ribu rupiah itu harga porsi baso masing-masing orang. Ups, dengan agak bengong, saya merogoh kocek lagi. Ternyata duitnya kurang. Sembari senyam-senyum, saya meminta si Ibu untuk menunggu saya untuk mengambil uang di ATM dulu. Jadilah saya pergi ke ATM.

Kartu ATM yang saya punya hanya kartu ATM BNI. Namun ATM yang ada hanya ATM Mandiri, yang ada di samping Indomaret Jalaprang. Karena kedua bank tersebut termasuk di jaringan ATM Bersama, saya bisa mengambil uang di ATM Mandiri tersebut. Masuklah saya ke ATM tersebut, dan bersiap untuk mengambil uang saku 100 ribu rupiah.

Nah, sebelumnya perlu saya ceritakan dulu tentang Kinesthetic Memory, atau yang dalam Bahasa Indonesia menjadi Ingatan Otot. Semasa SD dulu, saya pernah mencoba kuis kecil-kecilan di majalah Bobo (atau majalah Orbit, saya lupa) tentang tipe ingatan yang kita gunakan. Setidaknya ada tiga tipe ingatan yang saya ingat, yaitu Visual Memory (Ingatan Penglihatan), Audio Memory (Ingatan Pendengaran), dan Kinesthetic Memory (Ingatan Pergerakan). Kebetulan dari tes tersebut, saya dikategorikan sebagai orang yang sering menggunakan Ingatan Otot, atau Kinesthetic Memory, kemudian Visual Memory, kemudian Audio Memory.

Apa maksudnya ini? Artinya, secara tidak sadar, saya cenderung mengingat lebih mudah hal-hal yang menggunakan gerakan, seperti senam, gerakan tangan orang saat berbicara, cara berlari, dan lain-lain. Akibatnya, saya cenderung lebih mudah meniru gerakan seseorang, seperti dalam olahraga, atau tari, dan termasuk orang yang tidak mudah diam sebagai anak kecil. Memang, saya merasakan sendiri, reflek saya terasa agak lebih cepat untuk seusia anak-anak. Misal, saat menghindari pukulan teman saat berantem, menghindari atau membalikkan smash paman saya (kejam parah kalau diingat-ingat). Akibatnya, suatu gerakan otot jika saya lakukan rutin jadi berubah menjadi gerakan reflek. Nomor telepon saya hafal dari gerakan jari, hitungan aritmatik mental saya hafal dari gerakan tangan saya menulis, dan lain-lain dan itu terjadi secara tidak sadar. Ingatan tipe tersebut lebih sering digunakan dibandingkan ingatan visual atau audio. Saya memang masih bisa mengingat wajah orang, meski lupa namanya. Tapi saya sangat sulit menghafal instruksi panjang yang diberikan secara lisan, misalnya.

Intinya, saya cuma ingin mengatakan kalau reflek saya bisa dibuat dengan mudah bahkan kadang tanpa saya sadar, karena sudah diingat oleh tubuh. Konsekuensinya, pada saat menggunakan ATM BNI, saya jadi hafal mana tombol yang mesti ditekan, bahkan nomor PINnya saya hafal dengan gerakan (tombol PINnya bisa dengan mudah saya tekan, tapi kalau dituliskan jadi karakter nomor PIN, saya harus mikir dulu). Nah, di ATM BNI tersebut, otot tangan saya sudah memencet semua tombol secara otomatis sampai pada layar pilihan penarikan tunai cepat (pilihan yang isinya nominal 300 ribu, 500, 1 juta, atau 2 juta rupiah) saya jadi bengong. WTF just happen??? Sambil agak loading di otak, saya mencari tombol back atau apapun yang bisa mengembalikan saya ke menu sebelumnya. Mungkin karena tombol tersebut tidak kelihatan di layar, tangan saya gerak sendiri ke suatu tombol, dan “tut”, tertekanlah tombol tersebut. Setelah saya lihat itu tombol apa, saya bengong, seperti kena Stun, karena tombol yang saya tekan itu 2 juta. Ups… WTF just happen?????

Namun, dua detik yang hening tersebut dipecahkan oleh suara mesin ATM yang mengeluarkan duit 2 juta. Bloody Hell… Duit 2 juta tersebut disodorkan oleh si mesin. Saya bengong sekitar dua detik, kemudian langsung mengambil uang tersebut dan mengambil struk untuk mengecek nominal yang terambil, ternyata benar 2 juta. Masih agak shock, tangan saya berusaha merogoh kartu ATM saya, namun belum sempat terpegang, tiba-tiba kartu ATM tersebut dimakan oleh si mesin….

BLOODY HELL !$&@(!)*!)(&@##! STUPID ATM!!!!

Begitulah sekuens kegagalan yang terjadi. Saya pun bengong di depan mesin ATM dengan 2 juta di tangan dan struk transaksi. Oh, man…

Dalam teori risk management. Entah itu resiko kegagalan mesin atau sistem atau apapun. Probabilitas Event Kegagalan yang terjadi berturut-turut biasanya bernilai sangat kecil. Contohnya, resiko mesin pesawat gagal kemudian baling-balingnya mati lalu sayapnya pecah hingga body pesawat robek itu sangat kecil. Well, secara teori ini karena probabilitas yang terjadi adalah sekuensial, sehingga nilai probabilitasnya hasil dari perkalian probabilitas tiap event yang terjadi sekuensial tersebut. Tapi, toh, tetap saja saya mengalami salah memperkiraan uang buat bayar, salah memencet tombol, dan salah karena tidak mengambil kartu :p

Gara-gara itu, saya mesti ke BNI lagi, karena saya pikir waktu itu kartu ATM yang “dimakan” mesin ATM Bank lain tidak akan kembali. Jadi saya harus mengurus surat kehilangan dan kartu ATM baru.

Oh well, kejadian tersebut tetap bikin tertawa kalau diingat. Meskipun cerita ini biasa-biasa saja, tapi kalo ada yang merekam ekspresi saya waktu sadar habis mencet tombol 2 juta, pasti muka saya kelihatan shock dan bego. Hahaha…

One thought on “Probabilitas Event Kegagalan Sekuensial… dan Kartu ATM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s