September Ceria

September ini akhirnya lewat dan datanglah Oktober. Tentunya, pembaca tahu dari mana nama september berasal? September diambil dari bahasa Latin “septem” yang artinya 7 (tujuh). Meskipun tidak ada hubungannya (mungkin), di bahasa Sanskrit, angka 7 disebut sapta. September adalah bulan ke-tujuh dalam penanggalan Romawi, sebelum akhirnya bulan ke-tujuh dan ke-delapan diganti namanya menjadi nama kaisar romawi, Julius dan Augustus. Karena itulah, bulan september ini bergeser ke bulan ke-sembilan.

September benar-benar bulan yang sangat membahagiakan buat saya. Terlepas dari lagu “September Ceria” yang dinyanyikan “si burung camar” Vina Panduwinata (yang kebetulan salah satu penyanyi favorit saya), September benar-benar bulan yang sangat ceria. Ayah saya lahir di bulan September, Ibu saya lahir di bulan September, pernikahan mereka berdua juga di bulan September. How’s that sound? Feels like fate or just some coincidence? Nevertheless, I really loves that fact. Sebagai tambahan, seseorang yang saya suka dan saya perhatikan juga lahir di bulan ini. Hal ini membuat bulan September serasa manis, merdu, berwarna pink, atau seolah selalu berada di samping saya.

Banyak yang terjadi setiap bulan September ini. Tidak hanya peristiwa yang membahagiakan, namun termasuk juga peristiwa yang mencekam. Tentunya, warga negara ini tahu peristiwa G30S-PKI. Peristiwa berdarah dan mencekam, yang bahkan sempat difilmkan dan diputar tiap September, dulu. Jujur saja, saya belum pernah lihat filmnya. Orang tua saya mungkin tidak ingin saya menonton film itu waktu kecil. Tapi, dalam hati saya, terbekas nuansa peristiwa itu. Peristiwa hilangnya beberapa jenderal, dan pembantaian di baliknya. Seolah memberitahu saya, seperti apa konflik politik yang terjadi, dan konspirasi di dalamnya. Hal ini membuat saya sadar, Negara kita ga damai-damai amat waktu itu, dan betapa pentingnya upaya para pejuang jaman dulu untuk membuat suasana aman di tanah yang kita tinggali sekarang. Kita seharusnya bersyukur, atas pengorbanan mereka. Refleksinya mungkin disudahi saja. Saya sendiri merasa merinding menulisnya. Saya merasa seolah-olah pemerintah masih mencari orang-orang yang membicarakan peristiwa itu, menangkap siapapun yang ketahuan, lalu diasingkan dan dibantai di suatu tempat, wew.

Di September ini, tidak banyak game yang saya mainkan. Karena sekarang saya punya akun beta DoTA2, kadang-kadang saya sering main dengan teman-teman. Namun, koneksi internet yang cups membuat pengalaman bermain saya berkurang. DoTA2 menggunakan Steam, oleh karena itu, saya sering melihat featured game di Steam tersebut. Tentu saja, saya hanya mencari game-game yang nuansanya unik atau gameplaynya berbeda. Misalnya, Realm of The Mad God dan Super Crate Box. Keduanya adalah game ringan yang cukup addicting.

Pada suatu hari, ada sebuah game yang muncul di Steam, yang berjudul To The Moon. Saya sangat tertarik dengan sinopsisnya. Ceritanya tentang dua orang dokter yang bertugas mengabulkan keinginan seorang pria tua yang ingin pergi ke bulan. Sinopsisnya cukup menarik dan mengharukan, karena pria ini justru tidak tahu kenapa dia ingin pergi ke bulan. Dua orang dokter ini menggunakan teknologi semacam Inception lah, untuk mengabulkan keinginan pria tersebut sebelum meninggal. Kedua orang dokter ini spesialis dalam menjelajahi ingatan pasien menggunakan suatu alat, kemudian memicu keinginan orang tersebut dalam ingatan pasien yang paling awal dia ingat. Kemudian dari hasil pemicu itu, ingatan orang tersebut akan direkonstruksi ulang sehingga pasien tersebut seolah-olah sudah mencapai cita-citanya. Very tragic indeed.

To The Moon dibuat oleh Freebird Games Studio (http://freebirdgames.com/), dan merupakan game yang dibuat menggunakan RPG Maker XP (kalau saya lihat dari sprite-spritenya, dan executablenya, ya seperti itu). Game ini lebih didesain berbentuk short story atau light novel. Anggaplah Anda membaca cerita dalam bentuk game. Semacam media interaktif gitu. Jadi tidak usah berharap kalian menemukan battle system a’la RPG timur gitu. Aspek yang menarik lagi dari game ini adalah desain ceritanya. Penulis ceritanya sepertinya sangat berpengalaman menulis dialog yang membentuk atmosfir game-nya. Peran dialognya sangat kuat, terutama percakapan antara dua dokternya. Kedua karakter dokternya kelihatan banget. Aspek lain yang tidak kalah menarik adalah musiknya. Musiknya, boleh saya bilang, sekelas dengan musik-musik standar untuk RPG lah. Musiknya sangat penting, karena sangat mempengaruhi nuansa ceritanya. Well, bisa dibilang, kesan tragisnya didapat dari musik, selain dari plot yang cukup mengagetkan.

Sekian saja review untuk To The Moon. Ada beberapa game lain buatan Freebird yang tidak kalah menarik. Game tersebut diantaranya: Do You Remember My Lullaby (Lullaby), The Mirror Lied, dan Quintessence The Blighted Venom. Ketiganya punya atmosfir yang menarik juga.  Lullaby sebenarnya merupakan short story dalam bentuk media interaktid (yang dibuat menggunakan RPG Maker). Jadi anggaplah Anda menonton film selama kurang lebih 20 menit. Gaya penceritaannya bagus. Memang penulis plotnya sangat ahli sepertinya. Penulisnya berhasil membuat saya meneteskan air mata dan menelepon Ibu saya sendiri. Temanya memang tentang keluarga sih. Cuman untuk orang-orang tertentu, cerita tersebut punya kesan yang dalam. Ga semua orang akan sedih dengan melihat cerita tersebut. Sedangkan saya, yah… saya hanya sedikit sensitif saja kalau baca cerita yang bagus.

Game yang lain, The Mirror Lied, punya atmosfir yang sangat unik! Sumpah. Saya seharusnya ga bilang apa-apa, selain menyarankan Anda untuk mencobanya sendiri. Coba aja sendiri. Unduh di situs Freebird Studio. Gameplay rata-rata paling hanya 20 menit juga. Tenang aja, ini bukan game horror kok. Saya berani jamin. Game ini tentang eksperimen si penulis plotnya dan ceritanya terbuka. Jadi Anda mungkin punya interpretasi yang berbeda tentang game ini. Setelah memainkan, mungkin Anda akan ingat terus musiknya yang hanya satu-satunya di game tersebut (dan cukup creepy). Enough said. Anda harus main sendiri, saya ga bisa komentar yang lain lagi karena akan merusak kesan pertamanya.

Nah, untuk yang Quintessence, game ini seperti game RPG klasik. Game ini berat di storyline dan atmosfirnya. Saya sendiri baru main hingga beberapa menit. Tapi, lagi-lagi, saya sungguh terkesan dengan penulis ceritanya. Man! Kalo penulis ceritanya direkrut studio game besar, dia bisa bikin skenario yang bagus buat game RPG timur klasik. Very Classic Indeed. Musik yang ada di sini juga cukup bagus. Oya, apa saya belum bilang? Penulis, komposer, dan directornya dikerjakan sebagian besar oleh Kan “Reives” Gao. Ini untuk semua game tersebut loh. Nah, mungkin sekian saja untuk Freebird Studio.

Sebagai penutup, saya akan ceritakan sebuah game yang bernama Torchlight. Saya sempat memainkan game ini (dan belum tamat) sekitar setahun atau dua tahun yang lalu. Gameplaynya mungkin bisa saya bilang, meniru gameplay Diablo. Tapi, sejujurnya saya main game Torchlight dulu sebelum mencoba Diablo II. Kebetulan teman saya punya Diablo II. Saya masih ingat, saya ketawa-ketawa karena melihat gameplaynya yang mirip Torchlight, eh salah, gameplay Torchlight yang ternyata mirip Diablo II. Jadi, saya sangat respect sama game Diablo II. Saya jadi agak mengerti kenapa banyak orang menunggu bertahun-tahun sampai Diablo III keluar. Nah, kekurangan game Torchlight sejak pertama kali saya main yang saya sadari adalah fitur multiplayer! Bayangkan kalau Anda dapat menjelajah dungeon bareng teman-teman? Cukup seru bukan? (Yah, kayak Diablo II juga sih, kan bisa multiplayer). Nah, pada Torchlight II yang baru-baru ini keluar, ada fitur multiplayer. Mungkin untuk memperbaiki prekuelnya.

Teman saya, sebut saja  Mr. Y (saya ga yakin boleh nyebut nama asli atau tidak, jadi saya kasih inisialnya), pada suatu hari chatting dengan saya dan memberitahu kalo dia beli game Torchlight II lewat Steam. Wow, niat parah. Sumpah, buat saya, beli game secara legal itu suatu prestasi banget. Mungkin kalo buat saya, itu masuk ke achievement kehidupan. Jadi, sekarang mungkin dia udah punya “Achievement Unlocked: Buy a game legally” di sejarah kehidupannya. Hahaha… kalau punya banyak rejeki saya juga ingin beli secara legal. Itu bentuk rasa terima kasih saya atas karya seni yang studio game tersebut buat. Ya, game adalah karya seni. Seni itu mahal, tapi tidak harus jadi orang kaya untuk menikmati seni. Itulah pesan yang saya dapat, pada saat saya tahu, Affandi pernah secara random memberikan lukisannya pada orang yang lewat di jalan.

Sampai di sini saja cerita bulan ini. Welcome October…

4 thoughts on “September Ceria

  1. Iya to the moon sempet heboh, padahal grafik gameplaynya biasa aja, ternyata storynya ya yg bagus.. hooo
    Braid menurutku itu game dengan makna yg dalam, hehe.

    Oh ya satu lagi Journey, walo didalem game itu ga ada dialog, atau cerita berupa text, tapi menurutku itu dalem banget gamenya, kayak kita mengejar impian kita, dan setiap perjalanan kita bisa random ketemu orang lain secara online, yang kita ga tau namanya sapa dan dia maen dari mana, komunikasi cuman lewat tone2 suara aja, ga bisa chat juga. Kayak khidupan sbenarnya, kita secara random ketemu seseorang, dan mungkin membantu perjalanan kita, dan tiba2 saja orang itu hilang. Cool deh, haha..

    Oh ya to the moon maen cuman satu jam ul? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s