Author’s Note : Syarif Ghifar

Cerpen “Syarif Ghifar” memiliki alur yang biasa seperti cerpen-cerpen yang Anda baca di majalah. Guru bahasa Indonesia saya pernah memberikan karakteristik penting dari cerpen. Kira-kira yang saya tangkap dari beliau adalah, “Cerpen itu cerita pendek, jadi dia ga punya kesimpulan. Biarkan saja ceritanya menggantung. Karena memang ceritanya pendek.” Saat menuliskan Syarif Ghifar, poin itulah yang saya tekankan: “Selesaikan. Tanpa kesimpulan”. Perkenalan di awal dan cerita-cerita tentang Bogor hanya basa-basi saja, dan didesain untuk mengalihkan perhatian. Tapi kenapa mesti begitu? Kenapa mesti bernama Syarif Ghifar? Ada apa dengan Bogor? Pertanyaan itu bisa saya jawab dengan sedikit curhat.

Ide cerpen Syarif Ghifar bukan berasal dari saya, tapi alam bawah sadar saya. Jadi, ceritanya begini, Syarif Ghifar adalah cerpen yang saya baca di dalam mimpi saya. Alkisah, setelah suatu hari yang melelahkan, saya tertidur sangat nyenyak. Namun, di tengah-tengah tidur, saya bermimpi dan berada dalam keadaan Lucid Dreaming. Jadi, saya sadar bahwa saya bermimpi. Saya sangat senang berada dalam keadaan Lucid Dream. Pada keadaan tersebut, tentunya kita dapat menciptakan apapun yang dapat kita bayangkan menjadi seolah-olah nyata. Tentu saja, karena itu mimpi kita, kita dapat mengaturnya. Namun, pada saat itu, pikiran kita akan terbagi menjadi dua. Pikiran sadar dan pikiran tidak sadar. Jadi, Lucid Dream adalah sarana yang bagus untuk mengelola pikiran tidak sadar, misalnya rasa takut.

Nah, pada saat itu, saya sengaja berjalan-jalan di taman dalam mimpi saya (tentu saja tamannya saya buat sendiri). Sekedar beristirahat untuk mengontrol mimpi tersebut. Tidak ada orang, dan jalanan pun sepi. Karena membayangkan orang itu cukup kompleks buat saya. Pikiran saya terlalu liar dan sulit dikontrol saat berusaha me”wujud”kan orang. Biasanya orang yang saya wujudkan menyerang saya atau melakukan hal-hal tidak terduga seperti menusukkan pisau, mencekik leher, atau menghujani saya dengan peluru. Itu semua sangat sakit, karena sebagian dari diri kita sadar saat itu terjadi. Saya sudah berkali-kali nyaris tenggelam di mimpi, oleh karena itu saya jadi jarang mewujudkan air, kolam, sungai, laut, atau apapun, bahkan hujan. Karena, lengah sedikit bisa mengakibatkan saya tenggelam karena ada air bah yang terwujud dadakan. Percaya deh, tenggelam itu ga enak.

Jadi, saya hanya mewujudkan taman yang sepi, tanpa orang. Mungkin itu bisa jadi petunjuk bahwa ternyata alam bawah sadar saya takut dengan adanya kehadiran orang lain, dan memikirkan hal negatif yang dapat orang lain lakukan terhadap saya, atau mungkin itu manifestasi kekecewaan tersembunyi. Intinya, hanya ada taman dan tanaman-tanaman rindang disertai bunga-bunga. Oya, ada satu tempat duduk yang saya wujudkan karena saya malas berdiri. Mungkin ini karena dalam hati saya suka dengan tanaman. Tapi, di sebuah pojok yang saya tidak bentuk sebelumnya, terdapat sebuah buku hardcover dengan tema buku-buku klasik di peradaban keilmuan zaman latin dulu. Covernya sudah lusuh. Tentunya saya tertarik. Well, sebuah buku di pojok alam bawah sadar diri sendiri yang terbuat tidak sengaja di luar pikiran kita, siapa yang ga penasaran apa isinya? Siapa tahu saya jadi bisa lebih mengenal diri sendiri. Akhirnya saya ambil juga buku tersebut. Saya angkat buku tersebut dari aspal dan membukanya.

Lalu, apa isi buku itu? Ternyata buku tersebut adalah kumpulan cerpen. Saya tahu itu dari judul-judul yang tertera pada daftar isi. Tidak berkaitan semuanya. Saya buka buku tersebut secara random dan saya baca sepenggal dua penggal paragraf. Menarik sih. Namun, saya pikir tidak mungkin saya baca buku setebal sekitar 400 halaman tersebut, karena saya mesti bangun kan? Oleh karena itu, saya kembali ke daftar isi dan mencari judul yang menurut saya menarik. Kemudian mata saya tertuju ke halaman belakang. Ada buku yang berjudul mencolok dan beda dengan yang lain, yaitu :”Syarif Ghifar”. Mengapa menarik? Yah, gimana ya. Sebuah cerpen yang judulnya cuma nama? Apa sih yang berusaha disampaikan oleh cerpen tersebut? Apa sih temanya? Itulah yang membuat saya penasaran. Alam bawah sadar apa yang ada pada cerpen tersebut. Akhirnya, saya baca cerpen tersebut.

Paragraf pertama saya baca, dan saya tersenyum. It’s about a random person, namely Muhammad Syarif Ghifar. Jadi, sudah jelas cerpen ini adalah cerita tentang dia. Saya sendiri penasaran mengapa otak saya memunculkan nama tersebut? Apa maknanya? Setelah saya lanjutkan membaca, saya makin kaget. Mengapa harus ada nama kota Bogor??? The hell’s wrong with Bogor? Perlu Anda ketahui, saya belum pernah ke Bogor dalam keadaan sadar. Saya pernah ke Bogor ikut study tour guru-guru SMP (orang tua saya guru SMP), tapi itu saat saya masih kecil. Namun, setelah membaca lebih jauh, saya jadi lebih mengerti. Mungkin saya penasaran banget sama kota Bogor. Ayah saya pernah tinggal di Bogor waktu kecil. Secara pribadi, saya ingin juga pergi ke tempat orang tua saya bermain. Terkadang saya juga melihat jaket yang bagus milik teman kampus saya. Saya ingin beli juga dan menanyakan tempatnya. Ternyata dia beli di kotanya, Bogor. Wew.

Kembali ke cerita. Jadi singkatnya, saya membaca cerpen tersebut. Setiap selesai membaca satu kalimat atau paragraf. Lingkungan di sekitar saya berubah sesuai setting cerita. Maklum, karena dari dulu terbiasa baca novel, kebiasaan tersebut sulit dihentikan. Awalnya saya agak panik, karena saya di dalam mimpi. Bagaimana kalau lingkungannya berubah tanpa saya sadari saat setting ceritanya sedang buruk? Misalnya, jatuh dari pesawat. Namun, akhirnya saya mengalah, karena ceritanya cukup menarik dengan plot yang sulit ditebak. Maka jadilah setting lingkungan berubah-ubah sesuai paragraf yang saya baca, di kamar Syarif Ghifar, di taman, di gang, dan selanjutnya. Saya tetap muncul dan sadar sebagai orang ketiga yang memperhatikan Syarif Ghifar (karena gerakan Syarif Ghifar mengikuti apa yang saya baca).

Cerpen tersebut cukup pendek, dan hanya berisi dua halaman pas, beserta sebuah ilustrasi Drop Cap. Tulisannya bagus seolah ditulis menggunakan pena bulu, dan ditulis di atas kertas perkamen setebal HVS berwarna coklat kayu terang. Saya menyaksikan Syarif-Ghifar minum, pergi ke luar, bermain-main dengan anak kecil dari Bogor di cerita dan aktivitasnya di kosan teman. Hanya saja, saat pulangnya, saya jadi khawatir karena tiba-tiba muncul kabut, ini pasti pertanda tidak baik. Namun, saya benar-benar tidak menduga saat di ujung gang tersebut muncul siluat cewek pake baju maid. Saya yakin ini pasti ada apa-apanya. Namun, saya tetap melanjutkan membaca. Kemudian saya kaget karena kalimat berikutnya adalah kalimat yang diucapkan siluet tersebut yang dicetak dengan tinta tebal. Alam bawah sadar saya kemudian sudah tidak terkontrol lagi. Otomatis suara kalimat tersebut tergenerate dengan warna suara cewek yang parau dan menyeramkan, karena suaranya tepat persis di samping telinga. Lebih parah lagi saat saya baca kalimat sesudahnya. Perspektif saya langsung ter-switch otomatis tanpa kendali ke sudut pandang Syarif Ghifar yang memungut buku dan mendongak dan mendapati muka cewek yang polos tanpa mata, hidung ataupun mulut.

Kontan saya sangat kaget dan melompat mundur. Saya bahkan berteriak “F****CK!”  keras sekali dan berkali-kali. Dalam keadaan seperti itu, biasanya saya bisa langsung bangun karena bagian mimpi yang saya kontrol menjadi rapuh dan runtuh semua. Namun, pada kasus tersebut, impresinya begitu kuat, meskipun semua bangunan hilang, namun cewek tersebut masih berdiri di sudut. Dan tinggallah kami berdua berada di tengah-tengah kegelapan. Saya berusaha keras mengontrol cewek tersebut agar tidak bergerak mendekat, dan sepertinya berhasil. Dia tidak bergeming sedikitpun, tapi tidak hilang juga. Saya hanya bisa berdiri dan memalingkan muka ke arah yang berlawan, sambil sesekali menengok dan mendapati bahwa dia masih ada di situ, dan terucap kata “anjir” berkali-kali dari mulut saya.

Setelah agak tenang, (cewek tanpa muka itu masih berdiri diam di tempatnya sekitar 10 meter dari saya). Buku tersebut saya buang dan saya banting ke tanah. Saya sempat tertawa juga, dan menyesal karena yang terucap dari bibir saya bukan “Astaghfirullah”. Tampaknya, asma Allah harus mulai dibiasakan lagi untuk dilantunkan. hahaha… parah banget. Untungnya setelah agak tenang, saya tidak mengalami sindrom Lucid Dream yang gagal, yaitu sesak nafas, lumpuh, dan tidak bisa bangun. Saya bisa bangun dengan lancar. Saat saya bangun, saya sudah berkeringat dan dalam posisi duduk. Bad dream. Tapi dalam hati, saya salut. Mimpi tersebut tentunya berasal dari saya, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak saya sadari. Seperti cerpen tersebut. Kenapa bisa ada cerita yang kayak gitu dalam pikiran saya? Twisted banget sih. Dalam keadaan sadar aja saya ga mungkin kepikiran plot seaneh itu. Saya sendiri makin ga ngerti, jadi sebenernya cerita begitu siapa yang bikin? Alam bawah sadar sendiri? Damn… ini bikin cerita, gan. Bukan sekadar mimpi random ga ada makna. Jujur aja, bahasa yang ada di mimpi tersebut jauh lebih bagus (mungkin karena plotnya diproses internal). Syarif Ghifar yang saya tulis menggunakan gaya bahasa yang berbeda dengan plot yang sama.

Kalau dipikir-pikir, mungkin mimpi tersebut adalah refleksi rasa penasaran diri sendiri terhadap kota Bogor. Mungkin juga mimpi tersebut adalah ungkapan bentuk rasa takut yang tidak kita ketahui. Jika Anda bermimpi, ingatlah baik-baik mimpi Anda, lalu introspeksi lagi setelah sadar. Mungkin mimpi Anda mengungkapkan aspek diri kita yang tidak kita tahu, yang selalu kita sanggah, ataupun yang kita pikirkan diam-diam. Jelas, itu bisa digunakan untuk mengenal diri Anda lebih baik.

One thought on “Author’s Note : Syarif Ghifar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s