Syarif Ghifar

Judul Cerpen: Syarif Ghifar

Nama mahasiswa itu, Muhammad Syarif Ghifar.  Dia bertempat tinggal di sebuah kamar kos di dekat kampusnya di Bandung. Saat ini, dia sedang berada pada tahun kedua studinya di bangku kuliah. Syarif Ghifar adalah mahasiswa yang rajin, baik, cerdas, dan taat beragama, seperti mahasiswa pada umumnya. Namun, Syarif Ghifar memiliki sebuah hobi yang unik, jika tidak bisa dibilang aneh.

Syarif Ghifar memiliki suatu kecenderungan berlebih terhadap kota Bogor. Dia menyukai kota Bogor dan apapun yang ada hubungannya dengannya. Sebutkanlah apapun yang berhubungan dengan kota Bogor, dan dia akan menyukainya. Kota Bogor, kampus di Bogor, rumah di Bogor, oleh-oleh dari Bogor, talas Bogor, mobil dari Bogor, teman yang berasal dari Bogor, cewek yang lahir di Bogor, cewek yang tinggal di Bogor, kucing yang milik temannya yang ditinggal di Bogor, dan apapun yang ada kaitannya dengan Bogor, dia menyukainya.

Teman-temannya tidak berkeberatan dengan kelainan Syarif Ghifar. Selama hobinya itu tidak mengganggu lingkungan dan ketertiban sekitar, teman-temannya menanggapinya biasa saja. Tapi kita tidak akan membahas tentang kesukaan Syarif Ghifar terhadap Bogor secara berlebihan. Karena bisa saja hobi berubah menjadi wabah menular, menjangkiti siapapun yang berusaha memahami kesukaan Syarif Ghifar. Tentunya, kita sebagai orang normal tidak menginginkan hal itu. Tapi, bukan berarti Syarif Ghifar termasuk orang yang aneh, dia hanya “tidak biasa” dan “eksentris”. Syarif Ghifar bukanlah kriminal. Oleh karena itu, biarkanlah dia mengekspresikan kesukaannya.

Hari ini kita akan melihat keseharian seorang Syarif Ghifar, orang “eksentrik” yang menyukai apapun yang ada kaitannya dengan Bogor. Rupanya, Syarif Ghifar sudah bangun menjelang shubuh. Setelah itu, dia mandi dan menunaikan shalat tahajjud. Hawa dan air yang dingin tidak menghalanginya untuk beribadah pada Tuhannya. Sekilas, Syarif Ghifar terlihat seperti mahasiswa-mahasiswa yang taat beragama. Hal ini terlihat dari kelakuan Syarif Ghifar yang langsung pergi ke masjid saat adzan shubuh berkumandang.

Setelah beribadah shalat shubuh di masjid. Dia pulang dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Sungguh mahasiswa teladan yang patut dicontoh. Dia mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh karena bercita-cita lulus dengan predikat terbaik, bisa bekerja dengan mapan, dan akhirnya memiliki rumah di Bogor. Empat jam pekerjaannya terhenti karena jam weker klasik kesayangannya, yang dia beli di Bogor, berbunyi. Setelah itu, dia langsung membereskan barang-barang yang akan dia bawa. Laptopnya dari Bogor, dan buku-buku catatan dengan motif strawbery, serta payung kesayangannya yang dia beli juga di kota hujan. Ya, hari ini Syarif Ghifar akan menemui teman-temannya. Dia akan pergi ke kamar kos milik temannya yang letaknya sekitar dua blok untuk membicarakan proyek yang mereka kerjakan. Syarif Ghifar akan pulang sore hari. Sedangkan Bandung pada musim-musim seperti ini akan berlangit kelabu pada sore hari. Terkadang hujan gerimis yang panjang akan turun untuk meneduhkan aspal kota.

Syarif Ghifar berjalan dengan santai melewati taman di blok tersebut. Seorang anak perempuan dengan usia sekitar 7 tahun tampak sedang bermain-main dengan ibunya. Mereka berdua berdiri di samping mobil dengan plat B. Syarif Ghifar pun berhenti sejenak dan menyapa mereka berdua. Rupanya Syarif Ghifar tertarik dengan keluarga dari Bogor ini, yang ternyata sedang mengunjungi anaknya yang kuliah di kampus yang sama dengan Syarif Ghifar. Ibu tersebut sedang menunggu suaminya di samping mobil. Suami Ibu tersebut pergi untuk membeli sarapan dan kopi di warung sebelah. Syarif Ghifar berusaha menebak siapa gerangan mahasiswi yang jadi anak Ibu tersebut. Namun, Ibu tersebut hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa mahasiswi tersebut tidak berada pada jurusan yang sama dengan Syarif Ghifar. Ibu tersebut menjelaskan bahwa anaknya tinggal di ujung gang sempit. Begitulah Ibu tersebut menjelaskan saat Syarif Ghifar bertanya mengapa Ibu tersebut terus-menerus melirik gang gelap dan sempit di seberang jalan.

Selesai bercengkrama dengan keluarga tersebut, Syarif Ghifar kembali melanjutkan perjalanannya menemui temannya di kamar kosan di dua blok berikutnya. Tentu saja teman-temannya heran dan marah, karena Syarif Ghifar tidak pernah datang terlambat sebelumnya. Syarif Ghifar meminta maaf dan menceritakan alasan keterlambatannya. Semua temannya maklum setelah mendengar cerita yang dipaparkan Syarif Ghifar. Hanya seorang Syarif Ghifar saja yang berani menyapa orang yang baru dikenal hanya gara-gara melihat plat mobil.

Syarif Ghifar dan teman-temannya kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan tersebut yang entah apa, selesai setelah beberapa jam. Namun, rupanya hujan deras menghalangi niat Syarif Ghifar untuk pulang. Mengapa dia tidak pulang? Bukankah dia membawa payung? Sungguh sangat disayangkan, karena ternyata Syarif Ghifar tidak membawa payung dari Bogor tersebut. Syarif Ghifar hanya bisa menduga-duga bahwa payung tersebut tertinggal saat dia berbincang dengan Ibu dan anak perempuannya di taman.

Alkisah, Syarif Ghifar pun menunggu hujan mereda. Hal ini dikarenakan teman-temannya tidak memiliki payung. Sehingga, Syarif Ghifar terpaksa shalat di kamar. Jarak kamar kos temannya dengan masjid cukup jauh, sedangkan hujan turun dengan deras hingga petir menyambar-nyambar dahsyat seolah-olah hendak meruntuhkan langit. Hujan reda pada tengah malam yang sepi. Seperti dugaan Syarif Ghifar yang cerdas, kabut pun turun dan menghalangi pandangan. Namun, Syarif Ghifar tetap pulang sambil membawa catatan rapat. Catatan tersebut ia dekap di dadanya karena tasnya sudah dipenuhi barang-barang dan jaketnya yang dia beli di Bogor tidak cukup menahan udara dingin menusuk sang kabut.

Syarif Ghifar berjalan dua blok hingga ke taman. Namun kabut begitu pekat hingga dia harus memicingkan mata untuk mencari payung kesayangannya. Setelah berputar-putar ke sana kemari, akhirnya dia menemukan payung berwarna gelap tersebut. Namun, Syarif Ghifar bertindak ceroboh saat memungut payung tersebut sehingga catatan yang selama ini dia dekap terjatuh dan bertebaran di tanah taman.

Syarif Ghifar dengan sabar memungut semua catatan yang bisa dia lihat. Beberapa catatan basah terkena air genangan. Kemudian tiba-tiba terdengar suara langkah kaki pelan menginjak tanah basah dari ujung gang. Ujung gang yang dimaksud adalah gang gelap sempit yang diapit oleh dua rumah bertingkat di kanan kirinya. Ujung gang tersebut adalah tempat mata Ibu yang tadi pagi diajaknya berbincang tertuju. Sebuah gang yang gelap karena sinar matahari terhalang oleh rumah yang ujungnya sampai pada suatu pekarangan tanpa rumah.

Ya, Syarif Ghifar baru sadar bahwa tidak ada rumah di ujung gang tersebut, saat langkah kaki itu semakin mendekat. Kabut yang cukup pekat membuat Syarif Ghifar hanya mampu melihat siluet perempuan berrambut pendek, memakai rok, yang tampaknya menjadi sumber bunyi tersebut. Siluet itu perlahan membesar dan mendekat. Kemudian Syarif Ghifar kaget, karena sebuah kalimat terucap dari siluet tersebut. Syarif Ghifar kaget bukan karena suara tersebut yang terdengar parau. Syarif Ghifar kaget karena tidak tahu suara tersebut keluar dari mana, karena muka perempuan tersebut bersih tanpa mulut, hidung, ataupun mata.

MAJIKAN AKHIRNYA SUDAH KEMBALI…~”

Syarif Ghifar baru teringat bahwa pekarangan tersebut hanya berisi ilalang dan sebuah makam seorang perempuan.

TAMAT

8 thoughts on “Syarif Ghifar

  1. Aaaaaargh, bacanya malam gini. Tak ku kira cerita romantis gitu udah kupikir ini si maul mellow amat. Ternyata😐.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s