Ketika ITB mati listrik

Hari senin kemarin, seperti biasa sore itu saya standby di duktek. Saya sedang mencoba Fedora 17 yang baru keluar. Maklum, tiap versi major Fedora keluar, pasti ada sesuatu yang baru dan aneh. Benar saja, Fedora 17 yang baru keluar itu tidak bisa dijoin menggunakan autentikasi LDAP. Jadi, Fedora 17 belum bisa dipakai di labdas (mungkin untuk sementara). Saya malah terpikir untuk menggunakan Ubuntu atau CentOS saja di labdas. Padahal Fedora adalah linux favorit saya.

Tadinya saya juga sedang bantuin teman saya, Rizky untuk men-set environment variable. Namun, karena orang tua menelpon dan saya sedang tidak ada pulsa, akhirnya saya tunggu telepon dari orang tua saya di sofa. Eh, tidak tahunya, saya malah ketiduran. Untungnya saya dibangunkan Hanifan untuk shalat maghrib. Dalam keadaan masih tidak sadar, saya wudhu dulu. Sementara Bharata komat-kamit tentang gempa di Sukabumi. Wew, rupanya baru saja ada gempa di Bandung. Entah karena saya sedang tidur atau bagaimana. Orang-orang di duktek ga ada yang sadar. Well, Anis dan Rizky tetap main PES kok… Kalo beneran gempa mungkin saya udah ditinggal… hahaha…

Alhasil, entah sampai jam berapa, kami main PES (kecuali Rizky, dia pulang). Kemudian saya ngoprek Fedora 17 lagi, dan kami pun bubar ngoprek masalah masing2. Baru saja berapa menit, tiba-tiba ITB kena mati listrik… (power failure). Seluruh labtek gelap gulita. Labtek sebelah juga sama saja. Rupanya Seluruh ITB mati lampu. Lampu yang nyala hanya yang pakai sel surya saja.

Bapak dapur pun datang ke duktek untuk mengecek. Untungnya beliau bawa senter. Akhirnya kami beres-beres dan pulang. Yah, mau gimana lagi, lagian juga server sudah diset otomatis nyala saat ada listrik. Untungnya kita punya UPS baru, jadi listriknya kuat menyalakan beberapa komputer sekaligus (tapi pasti masih ada yang mati).

Saya dan Anis pun berjalan ke parkiran sipil. Suasananya sangat indah. Karena tadinya ada gerhana bulan, kan? Jadi bulan saat ini sedang purnama. Demi Allah, kalau saat itu saya bawa kamera digital, mungkin saya akan foto-foto. Jarang sekali ada pemandangan seperti itu di ITB. Hening, sepi, gelap, tapi ada secercah cahaya dari bulan yang menghiasi jalan dengan pemandangan kelabu. Apik banget (atau epik juga bisa…). Sayangnya langitnya agak mendung. Kalau tidak, mungkin bintang-bintang dan milkyway kelihatan jelas. Mahasiswa astronomi mungkin senang dengan keadaan ini, karena tiba-tiba polusi cahaya berkurang.

Wah, keren banget. Saya jadi ingat lingkungan di game Persona 3 saat masuk dark hour. Keadaannya mirip banget: sepi, tenang, kelabu. Tapi ternyata hanya ITB saja yang mati lampu. Kosan saya sih tidak mati lampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s