Saya Ga Sering Pulang Kampung, Tapi…

The Most Interesting Man In The World - SAYA GA SERING PULANG KAMPUNG TAPI SEKALINYA PULANG, KEHUJANAN, PLAT MOTOR HILANG, SHOCKBREAKER PATAH

Akhirnya tugas MPD (Manajemen Potensi Diri) saya selesai, yang berarti saya bisa liburan dengan tenang. Di sela-sela waktu senggang ini, saya sempatkan untuk menceritakan perjalanan saya pulang kampung senin lalu. Semua dimulai karena SIM saya yang akan kadaluarsa…

SIM saya (Surat Izin Mengemudi golongan C, yang bentuknya kartu, bukan surat…) akan kadaluarsa pada hari Sabtu nanti. Karena hari Sabtu nanti libur (dari hari kamis), saya harus bikin SIM antara hari Senin, Selasa, atau Rabu. Sedangkan hari Senin saya ujian Pemodelan dan Simulasi (Modsim) pukul 12:30. Setelah mengarang bebas selama 90 menit, hujan deras turun yang menyebabkan saya tidak bisa pulang pada pukul 3 sore. Akhirnya saya bisa pulang pukul setengah 6 sore. Di Lembang, saya sempatkan untuk membeli poncho. Pepatah bilang, beli jas hujan sebelum hujan. Sebenarnya saya ingin beli jas hujan karena poncho itu sering berkibar-kibar ga jelas saat digunakan. Tentu saja itu berbahaya buat pengendara lain. Tapi karena yang ada hanya poncho, ya sudahlah. Saya pakai poncho kayak Batman pulang kampung.

Terus terang, saya belum pernah pulang ke Haurgeulis dari Bandung pada malam hari. Saya sudah menduga bakal gelap gulita di tengah-tengah hutan dan kebun teh. Meskipun begitu, saya tidak menduga kalau gelapnya benar-benar pitch black. Radius penglihatan saya hanya sekitar lima meter dengan lampu dekat. Kalau ada mobil yang lewat dari depan, jadinya terang banget. Belokan di depannya malah ga keliatan sama sekali. Udah gitu di tengah jalan hujan juga lagi. Wah… benar-benar menyiksa…

Setelah melewati jalan yang bagus, akhirnya saya sampai juga di daerah Pegaden. Maklum, kampung saya itu ndeso. Kecamatan yang agak jauh dari kota besar. Sehingga jalan ke sana ga begitu bagus. Belum juga satu kilometer, saya melewati black hole yang ga keliatan. Kontan, motor saya nyaris terlempar ke atas meskipun ga ngebut. Di iringi suara TANG! Motor saya keluar dari black hole karena menabrak pinggiran lubang. Saya langsung khawatir karena bunyinya mirip bunyi metal jatuh. Saya hentikan motor dan saya perhatikan apa yang salah dengan si Karisma kesayangan saya itu. Begitu saya liat, ternyata pelat motor belakangnya hilang.

Meskipun saya backtrack jalur saya, ternyata pelat itu bagai raib kena portal ke dimensi lain. Akhirnya saya lanjutkan saja perjalanan pulang. Setelah agak jauh dan jalannya makin berantakan ga jelas, saya baru sadar kalo bunyi metal tadi bukan bunyi pelat jatuh. Getaran stang motor yang ga karuan ini adalah bukti bahwa shockbreaker motor saya patah di dalam. Wew… Meskipun sangat ga enak untuk dikendarai, saya paksakan untuk tetap melaju pelan-pelan. Akhirnya pukul setengah sembilan (atau jam 8 malam) saya sampai di rumah.

Adik saya langsung nagih Monster Hunter Portable 3 yang udah dia pesan… (Men… masih SD udah main MH… kakaknya aja belum sempet maen…). Namun saya tepar karena tulang dan otot saya udah kayak ga karuan letaknya. Paginya, kami sekeluarga (adik, ibu, bapak), ke Indramayu naik mobil. Rupanya Ibu juga mau perpanjang SIM karena SIM nya hilang (bareng dengan dompetnya… doh…).

Setelah buat surat sehat di Pasar Baru, dan fotokopi KTP (yang udah mau kadaluarsa juga), kami sampai di Kepolisian Indramayu sekitar pukul 10. Mau liat tempatnya kayak apa? Ada fotonya di hape, tapi ga bisa diupload karena ga punya bluetooth. Jadi lain kali aja yah. Proses perpanjang SIM ternyata cukup mudah. Petugasnya juga ramah dan suka bercanda. Senang juga bisa dengar logat Indramayu setelah sekian lama di Bandung.

Biaya perpanjangan SIM C ternyata naik dari 60 ribu jadi 75 ribu. Setelah mengambil formulir di loket, kami langsung bayar di loket pembayaran di sebelahnya. Setelah itu balik lagi ke loket untuk mengembalikan formulir. Sekitar 2menit kemudian saya dipanggil. Kemudian setelah petugasnya tahu kalau saya tidak bawa pulpen, saya diminta untuk mencari pulpen dulu. Saya pun masuk dan mengisi formulir di dalam. Kemudian formulir tadi saya kembalikan lagi. Sekitar 5 menit kemudian saya dipanggil untuk tanda-tangan, difoto, dan cap sidik jari. Semuanya dilakukan menggunakan teknologi digital. Saya juga melihat operatornya yang mbak-mbak mengoperasikan antarmuka aplikasinya. Tanda tangan saya coretkan (emang kayak coretan sih…) ke kertas, kemudian kertas tersebut dimasukkan ke sebuah alat. Tanda tangan saya pun terbaca dengan beberapa background noise berwarna hitam. Kemudian mbak tersebut mengklik suatu tombol untuk menghilangkan noise tersebut pada aplikasinya. Terlihat tanda-tangan saya dithreshold beberapa kali oleh dia hingga jadi jelas hitam putihnya. Setelah itu saya diminta menempelkan sidik jari jempol kiri kemudian kanan ke fingerprint reader di situ. Setelah itu saya difoto (ada alatnya juga). Saya agak menyesal juga sih karena belum potong rambut. Tapi ya sudahlah. Setelah itu saya menunggu lagi sekitar 2 menit dan akhirnya dipanggil lagi untuk mengambil SIM tersebut. Total waktu pelayanannya mungkin sekitar 15 menit sih… cukup cepat sih.

Setelah mampir ke rumah bude di Indramayu, kami pulang. Di perjalanan, saya tidur nyenyak untuk persiapan membuat makalah MPD untuk UAS. Setelah sampai di rumah, saya menunggu motor Karisma itu selesai diservis. Seandainya saya ga mesti pulang ke Bandung Selasa sore, mungkin saya yang bawa motor itu ke bengkel. Tapi akhirnya motor itu dibawa ke bengkel oleh orang lain. Sesuai perkiraan, ternyata shockbreaker kiri depan saya mati dan harus diganti. Tapi gara-gara itu, stangnya jadi harus diutak-atik. Setelah saya coba kendarai, saya jadi agak sedih karena stangnya jadi agak kaku.

Emang bagus sih, kalo ngebut stangnya jadi stabil. Tapi ini kan mau dibawa ke Bandung yang jalannya belok-belok. Meskipun belok ke kiri ‘agak normal’, tapi saat dibelokkan ke kanan stangnya sulit dibelokkan. Kalau gaya yang diberikan tidak cukup, stangnya tidak belok tapi motor saya jadi miring, jadi berasa MotoGP. Kalo lagi ngebut sih lumayan enak belok slalom gaya MotoGP, tapi kalo ngebonceng orang mana bisa gerakan kayak gitu keluar. Kalo lagi lambat malah jadi susah dibelokin, karena kalo motor saya miring dengan kecepatan rendah, ya jatuh lah…

Untungnya pada perjalanan ke Bandung, tidak terjadi hujan. Tapi tetap aja jalanan gelap gulita dan berbahaya, jadi saya cukup hati-hati kalau mau nyalip… dan ga bisa slalom… Meskipun banyak rintangannya, tapi saya senang SIM baru saya sudah selesai dibuat. Desainnya cukup bagus… Senang juga bisa tahu kalau pemerintah sudah cukup aktif menggunakan teknologi untuk mempermudah administrasi seperti ini. Lucu juga waktu liat antarmukanya pertama kali, yang paling pertama saya pikirkan hanya aplikasinya mungkin dibuat dengan Visual BASIC…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s