Piramida Maslow

The Most Interesting Man In The World - Saya GA SERING NULIS TAPI SEKALINYA NULIS, SAYA NULIS DUA

Hehe… agar saya tetap terjaga hingga pukul tujuh pagi… saya akan menulis lagi. Masih ada hubungannya dengan Manajemen Potensi Diri. Kali ini saya akan memperkenalkan tentang Piramida Maslow. Piramida Maslow ini pernah saya ketahui dari kuliah Informatika (tapi entah yang mana). Alkisah, suatu hari seorang bernama Abraham Maslow berusaha menjelaskan tentang asal motivasi manusia. Kemudian… ah… baca aja sendiri di sini … http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow’s_hierarchy_of_needs.

Nih… ada gambarnya…

Jadi ini ngomongin apa sih? Intinya sih, Maslow berusaha menerangkan darimana motivasi manusia secara naluriah berasal. Piramida tersebut terdiri dari kelompok-kelompok kebutuhan naluriah manusia. Kebutuhan yang paling dasar (yang paling bawah) adalah kebutuhan fisiologi (fisik, fundamental, kebutuhan primer). Kemudian dilanjutkan kebutuhan safety (kecenderungan untuk merasa aman). Lalu love (kecenderungan untuk merasa dicintai dan mencintai). Lalu esteem (kebutuhan agar individu tersebut dihargai oleh lingkungan). Terakhir self-actualization. Anda bisa mengingat arti kata aktual dari motto salah satu acara berita stasiun TV kita:

Aktual, tajam, terpercaya…

Aktual maksudnya sebenar-benarnya atau sejati atau sesungguhnya. Anda bisa cek di KBBI, mungkin artinya akan dekat-dekat ke situ. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk menjadi manusia seutuhnya, yang sejati.

Maslow menjelaskan bahwa secara naluriah, manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang paling dasar dulu (fisiologi), baru kemudian memenuhi kebutuhan di level yang lebih tinggi (safety, love, dst.). Lalu apa gunanya teori ini? Teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan banyak motivasi manusia dan penyebab pendorongnya. Saya dapat menjelaskan banyak hal dari teori ini. Akan saya demonstrasikan kegunaan teori ini.

Jika kita lihat kebutuhan yang paling dasar (fisiologi). Kita dapat melihat bahwa manusia harus memenuhi kebutuhan ini (absolut), kalo ga dipenuhi, dia bisa mati (fisik ato mental). Seperti bernapas, kalo ga bernapas ya bisa mati. Sama juga dengan eksresi. Kalo manusia ga bisa eksresi ya menderita juga. Oleh karena itu, dalam suatu negara, hal yang mestinya diberantas pertama ya kebutuhan ini. Seperti kebutuhan pangan. Kalau warganya aja ga bisa makan, gimana caranya warga tersebut mikirin hal yang lain?

Hal menarik lainnya dari kebutuhan dasar adalah sex dimasukkan ke kategori ini. Apa maksudnya? Artinya sex itu kebutuhan absolut buat manusia (menurut Maslow). Nah, sekarang kita lihat di kategori self-actualization ada morality alias kebutuhan moral. Jika secara naluriah kebutuhan dasar harus dipenuhi lebih dulu, ya jelas jika kebutuhan sex muncul lebih dulu, secara naluri orang akan mendahulukan itu daripada kebutuhan moral. Ini menjelaskan mengapa kasus pemerkosaan terjadi. Tentunya bagi umat beragama yang mampu menjaga nafsu atau nalurinya, prioritas moral ini bisa dia kendalikan. Tapi ini membuat saya berpikir banyak tentang mengapa di Islam menikah itu sangat penting. Ini bukan karena saya galau nikah atau gimana… Tapi coba dipikir dulu, kalau teori Maslow benar, maka menikah bisa menjadi jalan agar kebutuhan di level yang lebih tinggi bisa dipenuhi. Mungkin ga sih kalau saya bilang, “Berarti, nikah dulu, baru orang akan secara naluriah berpikir untuk mengaktualisasi diri/memperbaiki kehidupan…”

Terlepas dari masalah menikah atau tidak, mari kita cek kebutuhan yang lain. Kita lihat kebutuhan love. Cinta itu bisa didapat darimana saja. Namun hal yang lucu adalah, cinta itu bukan kebutuhan primer. Jadi antara sex dan cinta, lebih dulu sex. Wew… No comment ah. Tapi coba kita lihat cinta yang lain. Cinta akan keluarga juga dimasukkan di sini. Namun, tetap masih di bawah moral, dan di atas kebutuhan keamanan. Apakah Maslow berusaha menjelaskan bahwa seseorang baru bisa mencintai keluarganya dengan optimal setelah kehidupannya aman? Hmm.. dipikir-pikir iya juga sih. Tapi  saya bukan psikolog. Biarkan psikolog beneran yang menafsirkan.

Lalu apalagi yang bisa didapat dari piramida ini? Piramida ini bisa digunakan untuk menilai status orang secara psikologis lho. Misalnya saya manfaatkan begini. Jika saya melihat orang yang punya self-esteem tinggi, bisa kita ambil kesimpulan bahwa kebutuhan primernya terjamin, dan kebutuhan keamanannya terjamin, bisa jadi juga kebutuhan cintanya terjamin. Artinya, orang yang punya self-esteem tinggi sulit untuk ditekan. Orang yang sibuk berorganisasi juga, misalnya. Berarti dia memiliki self-actualization tinggi. Artinya, kehidupannya penuh cinta dong? Selain itu makanannya terjamin. Menarik sekali. Teori ini ternyata juga mungkin bisa digunakan untuk menebak background kehidupan orang lain. Kita bisa tahu masalah psikologisnya. Tentunya orang yang sedang berada pada standar kebutuhan cinta, mudah didekati dan dibujuk. Secara tidak sadar, kita juga bisa membimbing orang lain untuk beraktualisasi diri dengan menyelesaikan masalah-masalah kebutuhan dasarnya. Ini bisa digunakan untuk team-building, misalnya.

Ah… sebenarnya saya ngomong apa sih… ga jelas juga…. Jujur, saya sendiri tidak begitu tahu banyak tentang ini. Ini hanya sekedar unek-unek yang ada dikepala saja… hahaha…. Selamat pagi…

One thought on “Piramida Maslow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s