Anak Perempuan Tidak Boleh Keluar Malam?

Akhirnya, sudah lama sekali saya tidak menulis lagi di blog ini. Maklum, sibuk TA (alasan yang cukup logis). Entah karena manajemen waktu saya cukup buruk sehingga jarang menulis lagi, atau karena semua unek-unek saya sudah saya tuliskan di diary (untuk tugas kuliah juga sih…). Terus kenapa sekarang saya menulis lagi? Padahal 30 menit kemudian teman saya yang satu bimbingan akan menghadapi seminar TA II-nya, yang tentunya akan saya hadiri juga. Jawabannya adalah karena saya terharu melihat dua teman saya subscribe blog yang nyaris jarang diisi ini. Kemudian, saya pikir, “Yah, saya nulis saja sebentar sebagai hadiah buat mereka.”

Oke. Apa yang mau saya ceritakan adalah hal yang benar-benar membuat saya memeras otak dan mempertanyakan tentang masalah moral dan etika saya sendiri. Begini ceritanya. Alkisah ada seorang perempuan yang selalu minta izin ke saya (atau selalu memberitahu saya) kalau dia mau pergi ke luar (dan itu malam-malam). Tentunya, saya ga terlalu masalah, karena toh itu hidup dia juga, dan kenapa juga saya mesti ngelarang-ngelarang? Emang saya ini siapa? Lagipula dia pergi ke luar dengan alasan yang bagus. Dia mau ngerjain tugas dengan temennya yang notabene-nya, umum-nya, dan kebanyakan cowok semua, tapi temen-temennya bisa dipercaya kok, dan mereka orang baik-baik, jadi jangan berprasangka buruk dengan teman saya yah. Yah, saya tidak terlalu mempermasalahkan itu, karena saya percaya dengan dia dan mereka. Enough said.

Kemudian –mungkin ini terjadi beberapa saat sebelum Hari Kartini–, pada suatu hari ada pertandingan liga champion yang sepertinya bakalan seru. Karena saya ga punya televisi, jadi pada hari itu saya ingin pergi ke kosan teman untuk menonton. Tapi ujung-ujungnya ga jadi karena saya lupa. Malamnya saya ditelpon sama si perempuan itu (well, sebut saja Mawar, karena saya suka Mawar…). Nah si Mawar yang manis ini seperti biasa izin untuk keluar malam. Seperti biasa, mungkin karena saya merasa peran saya lebih ke sebagai konsultan, saya menanyakan alasannya pergi ke luar. Kemudian dia menjawab dengan santai, bahwa dia diajak teman-temannya untuk nonton bola (nonton bareng, semisal nonton di kafe atau hangout spot lain). Entah kenapa saya kaget terus nyeletuk.

“Kok gitu sih? Ngapain anak cewek keluar malem-malem buat gitu doang?”.

Mungkin karena saya ga berpikir dengan matang dulu dan asal bicara. Teman saya itu balik nanya lagi.

“Loh? Emang kenapa? Emang saya ngelakuin dosa apa?”

terus saya diem. Lalu dia ngomong lagi?

“Jadi kalo cowok, dia bisa nonton bola bareng? Kalo cewek ga boleh?”

Dan saya tetap diem. Lalu dia melanjutkan.

“Emangnya saya ngapain? Emang saya keluar saya siapa? Kita mau nonton bola, bukan bikin dosa.”

Gitu kira-kira ilustrasinya. Saya ga begitu ingat karena terlalu bengong dengan jawaban yang tidak saya duga itu. Maklum, biasanya saya sudah memperkirakan jawaban dia kira-kira dua atau tiga langkah berikutnya seperti main catur. Tapi sekarang saya speechless.

“Ya kan kamu cewek. Secara moral ga baiklah kayak gitu.” Akhirnya saya menjawab gitu

“Saya bingung ya. Yang ngatur moral dan tatakrama itu siapa? Masyarakat? Terus kita harus ngikutin apa aja masyarakat ngomong?”

Err… saya diem saat itu… Kemudian dia melanjutkan.

“Sebenernya kan itu tergantung kita juga. Kalo kita bisa ngasih pengertian ke masyarakat kalo yang kita lakukan itu tidak melanggar norma-norma yang berlaku ya tidak apa-apa. Buktinya saya bisa keluar malam tiap hari ya karena saya memberitahu saya pergi kemana, sama siapa, urusannya apa. Ga bikin fitnah.”

Yep. Skak mat. Habis itu saya ga bisa ngomong apa-apa lagi.

Dalam hati sebenarnya saya sadar, saya bilang kayak gitu karena udah ga terlalu percaya lagi sama lingkungan. Orang jahat ada dimana-mana, pemerintah seolah diem aja (ya.. bisa apa juga sih mereka?…). Terlalu banyak ketidak percayaan dan prasangka, dan tanpa sadar itu merusak kehidupan sosial kita juga. Well, nice argument. Selamat Hari Kartini (meskipun telat). Saya harap banyak perempuan yang kritis juga. Selain itu saya harap kita sebagai laki-laki bisa menjaga kaum hawa lebih baik lagi.

Oke udah dulu yah, saya mau menghadiri seminar…

3 thoughts on “Anak Perempuan Tidak Boleh Keluar Malam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s