On Sunday Morning…

Hari ini saya terbangun jam 9 pagi… Biasa lah… “I’m not a morning person…”

Namun, tidur di pagi hari itu sebenernya ga baik. Misalnya kata artikel ini :http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/514-kebiasaan-tidur-pagi-ternyata-berbahaya.html. Meskipun begitu, saya pribadi merasakannya (secara kesehatan…) bahwa tidur pagi itu ga sehat. Seperti pagi ini aja, kepala langsung pusing dan nafas udah ngos-ngosan. Tampanya level oksigen di kamar saya rendah banget…. Apalagi pada pagi hari biasanya molekul udara dengan massa atom yang besar (alias berat) biasanya berkumpul di dekat tanah, karena dingin. Apalagi ini di Bandung. Yah, anggap lah molekul berat itu adalah timbal dan polusi semacamnya. Makanya, sebenarnya saya ga menyarankan untuk lari-lari pagi di Kota besar, masih banyak polusinya. Beda dengan di desa yang udaranya sejuk. Pokoknya beda banget lah. Kalo kalian mudik, cobain deh. Kalopun mau lari-lari pagi, paling tidak jam 9 pagi atau sekalian jam 4/5 sore (itu lari sore namanya, Mas…)

Ya, singkat cerita, saya sesak nafas pagi tadi. Langsung aja saya buka pintu biar ada ventilasi dikit. Btw, pernah ga kalian mimpi sesuatu yang keren. Biasanya sehabis bangun, kita merasa itu mimpi yang sangat keren. Saat kita gosok gigi, biasanya detail-detailnya udah ga keinget lagi. Setelah selesai mandi, biasanya kita udah lupa itu mimpi apaan. Jadi kita hanya ingat kalo mimpi itu keren, tapi ga tau kerennya dimana. Yah, namanya juga mimpi….

Nah, tapi beda lagi kalo mimpinya agak seram. Biasanya kita malah ingat dengan detail, entah kenapa. Padahal kalo dipikir-pikir, mimpinya sama-sama berkesan, tapi entah kenapa kalo mimpi buruk lebih sering diingat. Mungkin secara alamiah kita lebih mudah mengingat hal-hal yang buruk. Semacam pertahanan diri gitu kali.

Seperti yang sudah kita tau, mimpi itu cuman persepsi otak yang lagi istirahat doang. Sebenarnya walaupun kita tidur, beberapa indera masih terjaga. Indera kita masih tetap mengirimkan sinyal ke otak, dan otak mempersepsikannya seadanya. Persepsi itu kadang “nyangkut” di mimpi kita. Misalnya gini, saya pernah mimpi dicekik sama nenek sihir (wow fantasi banget…), ga taunya itu gara-gara tangan adik saya nyasar ke leher saya (sesak nafas bo….). Pernah juga mimpi tenggelam, ga taunya itu gara-gara ada bantal nyasar nutupin hidung (siapa yang mau bunuh gua???). Pernah juga mimpi dicium di bibir (sweet banget…), tapi gataunya karena jari gua nyasar ke bibir sendiri (ow, damn…). Ya, mimpi sepertinya cuman persepsi doang. Katanya, pada saat kita bermimpi, otak sebenarnya menyortir ingatan jangka pendek kita pada hari itu untuk disimpan ke ingatan jangka panjang (terutama ingatan-ingatan yang dianggap penting…). Jadi biasanya kalo seharian itu kita ketemu terus dengan seseorang atau mengalami hal yang mengesankan, biasanya terbawa sampai mimpi.

Wow… kenapa kita jadi ngomongin mimpi? Ada kalanya kita mimpi bertingkat. Seolah kita sudah bangun namun ternyata itu masih mimpi. Waktu kecil, kadang saya berpikir bahwa jangan-jangan hidup kita ini mimpi juga. Oiya, bahkan konsep ini difilmkan juga, seperti di film Inception, misalnya.

Kadang kala, karena kita yang bermimpi, kita bisa mengontrol mimpi tersebut. Ini terjadi saat kita sedang setengah sadar, biasanya. Sangat menyenangkan saat kita sadar bahwa kita sedang bermimpi, dan menciptakan hal-hal yang kita inginkan sendiri, membuat tempat-tempat yang indah, berjalan di padang rumput, atau sekedar memegang tangan cewek yang kita taksir, bahkan kita bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal, hahahaha. Namun itu semua tidak nyata, saat kita terbangun, itu semua hanya mimpi. Kadang kita jadi berpikir apakah dunia yang kita tinggali sekarang nyata atau tidak? Apa bedanya nyata dengan maya? Toh, saat kita mati, semuanya juga berakhir. Kalo orang seperti saya yang agak atomik (lakukan atau tidak sama sekali….), begitu tau ada mimpi yang bisa dikendalikan, saya langsung berpikir “Yah, ngapain juga…. bentar lagi juga bangun…”. Namun, buat orang-orang yang bersyukur, mereka akan bilang “Asik, mumpung masih mimpi, kita manfaatkan dengan baik dan sepuas-puasnya!”. Ada juga mungkin yang berpikir, “Damn…. ngapain gua mimpi ginian. Mending gua bangun…”, dan akhirnya terbangun. Yah, ini mirip-mirip gelas setengah isi, sih… Waktu ngeliat gelas yang setengah diisi ada yang bilang “Asem, ini apaan ngisi kok setengah-setengah…. Mending gua isi sampe penuh…”. Ada juga yang bilang “Asem, ini apaan minum kok setengah-setengah…. Mending gua minum sampe habis…”. Nah, tapi orang kayak saya bakal bilang “Asem, ini apaan gelas diisi setengah ga jelas…. Mending gua tinggalin…”, dan akhirnya meninggalkan gelas ga guna tersebut. Hahahaha….

Yah, beda orang beda sifat. Mungkin saya termasuk orang yang tidak bersyukur karena dalam hati sering bilang, “What the hell??? Kita bakalan mati, terus ngapain susah-susah hidup???”, padahal di ujung Etiopia sana banyak orang berjibaku biar bisa tetep hidup. Tapi akhirnya lama-lama saya paham juga, kalo kita hidup bukan untuk diri sendiri aja, tapi buat orang lain juga, terutama orang di sekitar kita. Jika kita bisa membuat orang lain merasa lebih hidup dan berpikir “Ga ada ruginya juga gua hidup di dunia…”, mungkin dunia akan jadi tempat yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s