Dilema Generalisasi

Terkadang di lingkungan sekitar, kita sering dimarahi, dikritik, dicela, disindir, dan semacamnya. Misalnya, pernah waktu saya sedang liburan waktu masih kecil, saya bermain-main di gang dengan ketapel dan batu. Sebenarnya saya tidak sedang mengetapel orang, tapi menembak di dinding dengan batu-batu kecil. Tentu saja, sebagai anak kecil yang “merasa” punya kesadaran sosial tinggie (wkwkwkwk), saya tidak mengarahkan ketapel itu ke orang. Jika ada orang yang lewat, saya berhenti sejenak menunggu orang itu lewat. Pertimbangan saya main ketapel di situ adalah agar batu yang saya lempar tidak “nyasar” ke orang lain, karena gang itu cukup sempit. Namun, seperti biasa, manusia hanya bisa berrencana dan Tuhan lah yang menentukan hasil akhirnya. Seorang nenek lewat gang tersebut, dan saya tunggu sampai dia selesai lewat. Setelah si nenek berada pada zona aman, saya pun bermain ketapel lagi (ngomong-ngomong, semuanya tau ketapel kan?versi bahasa inggrisnya : catapult).  Batu kecil pun meluncur dari ketapel saya ke arah dinding, dan dengan kecepatan tinggi memantul dengan sudut yang janggal dan ‘unpredictable’ ke arah kepala si nenek nun jauh disana. Yah, seperti yang sudah bisa ditebak, belakang kepala nenek itu pun tertabrak batu kecil tersebut. Nenek tersebut membalikkan badan dan mendapati saya sebagai satu-satunya tersangka yang ada. Jelas aja saya langsung dimarah-marahin. Ibu, eh, nenek itu menyangka saya dengan sengaja mengetapelkan batu itu langsung ke kepalanya. Tentu saja tidak, kan? Saya pun sangat ingin membantah, namun karena merasa tidak ada gunanya, saya pun diam saja mendengarkan cacian nenek itu yang kebetulan bahasanya tidak saya mengerti (hehehe…), lagipula, sengaja atau tidak kepala nenek itu kena batu gara-gara saya. Meskipun nenek itu mengambil kesimpulan yang salah, namun dia tidak bisa disalahkan. Cerita ini hanya untuk mengingatkan saja, meskipun kita bisa sengaja untuk tidak menyakiti orang lain, namun kita bisa saja tidak sengaja dan tanpa sadar menyakiti orang lain, meskipun itu bukan keinginan kita.

Ada kalanya kita melakukan kesalahan. Sudah pasti sebagai manusia biasa, kita pernah melakukan kesalahan. Saya pribadi sebenarnya tidak masalah kalau orang lain menyalahkan sikap saya untuk saya saja. Tapi saya paling bingung kalau orang yang melihat kesalahan saya melakukan ‘generalisasi’ yang salah. Misalkan saya menembak seseorang (kali ini bukan pake ketapel tapi senjata api aja biar keren), dan orang tersebut terbunuh. Nah, kebetulan saya yang kuliah di institut xxx ini, menggunakan jas almamater institut xxx tersebut. Mungkin orang-orang di sekitar yang melihat kejadian tersebut jadi punya impresi kalo institut xxx memiliki mahasiswa-mahasiswa yang berbahaya (tidak hanya saya saja yang berbahaya). Meskipun saya tidak menginginkan anggapan tersebut ada, tapi kita tidak bisa menjamin semua orang tidak memikirkan hal itu. Itu hanya contoh ekstrim lah, tapi sedikit banyak kita bisa sadar kalo orang-orang di sekitar kita juga bisa saja menilai institusi/organisasi yang kita ikuti berdasarkan sikap kita. Mau atau tidak mau, selama kita jadi makhluk sosial, masalah itu akan tetap ada. Jadi, secara tidak langsung itu menyadarkan kita bahwa kadang kita punya tanggung jawab yang tidak tertulis terhadap hal-hal yang berhubungan dengan diri kita. Meskipun saya kesal juga, tapi mau ga mau ya kalo saya melakukan kesalahan, orang lain juga bisa kena. Mau gimana lagi…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s