Pajak, Negara, dan Koruptor

Hari ini, Senin 22 November 2010, aku menginap di kosan seorang teman. Kebetulan letaknya dekat dengan kosanku sendiri. Sebenarnya, lebih tepat dikatakan kalo aku menginap dari tanggal 21 November malam hingga 22 November pagi. Jadi itu kejadian pada pagi ini.

Aku baru mulai tidur sekitar pukul dua pagi. Badanku sudah cukup lelah karena permainan futsal tadi sore. Aku pun tertidur dengan lelap di depan layar monitor komputer teman kosanku yang dipasangi TV Tuner. Begitupun saat aku bangun, yang kulihat pertama kali adalah layar monitor tersebut yang masih menyala. Kebetulan saat itu sedang ada iklan layanan masyarakat, yaitu tentang iklan persuasif yang mengajak masyarakat untuk membayar pajak tepat waktu. Entah karena baru bangun tidur dan belum sadar atau memang kata-kata yang sudah tersimpan akhirnya keluar juga, aku marah-marah dan menggerutu pada layar monitor yang tidak bersalah, “Ko masih ada aja sih iklan macam begini setelah ada kasus Gayus!”. Meskipun dengan nada agak keras, seorang temanku yang ikut menginap beserta temanku yang empunya kosan itu tidak mendengar dan masih terlelap, sedangkan temanku yang seorang lagi sibuk di kamar mandi karena sedang melawan diare mendadak. Tentu saja tidak ada yang mendengar gerutuanku ini. Bahkan layar monitor pun tidak akan mengerti apa yang aku katakan, dinding pun cuma bisa jadi saksi bisu suara hati yang tak akan terdengar ke telinga negara republik ini.

Tapi sudahlah, yang salah bukan negara ini, bukan pula layar monitor yang dipasangi TV Tuner itu. Pihak yang salah adalah oknum-oknum terkait yang merusak negeri ini. Tentunya pembaca sudah tahu dengan kasus Gayus tersebut bukan? Kalo sudah, berarti saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Kalo belum, berarti anda kurang sering mendengar berita pemerintahan (sebenarnya saya juga lho), dan sebaiknya cari sendiri di Google terkait kasus ini.

Terlepas dari insiden layar monitor tadi (yang tidak berdosa), hari ini aku dan teman-teman sudah cukup disibukkan dengan tugas kuliah yang garis-mati-nya hari ini. Setelah mengunggah tugas tersebut pada tempatnya, aku pun menemani temanku (yang tadi malam menginap) ke Mac Store di kampus kami. Temanku yang satu ini punya beberapa masalah dengan laptopnya, dan katanya dia mau membeli Mac sebagai pengganti laptop baru. Konon harga Mac di Mac Store kampus ini lebih murah dari pada di pasaran luar (mungkin karena ada program kampus). Kebetulan budget yang dia miliki cukup untuk membeli sebuah Mac Pro. Katanya, dia ingin ke Mac Store untuk menanyakan harga.

Sesampainya di Mac Store kami pun langsung melihat dan “memegang-megang” keyboard dan mouse iMac yang dipajang di situ. Karena Mac termasuk barang baru buatku, jadi dengan antusias aku meng-klik kesana kemari ke berbagai objek di desktop dan sesekali bergumam “Oh..” atau “Wah…” atau “Hmm..”. Setelah cukup puas melihat-lihat iMac dengan keyboard dan mouse wireless, aku pun melihat-lihat laptop Mac yang bercasing aluminium. Laptop ini kuperlakukan sama seperti iMac di sebelahnya, dengan sesekali aku bergumam “Oh..” atau “Wah…” atau “Hmm..”. Akhirnya, temanku bertanya pada penjaga toko tentang kapan barang yang dia inginkan sampai di toko ini. Penjaga toko tersebut bilang laptop yang dimaksud akan datang bulan Desember, yaitu dua minggu lagi dari sekarang. Aku sarankan pada temanku untuk mem-booking laptop Mac tersebut. Temanku pun meninggalkan nomor teleponnya pada penjaga toko tersebut. Sementara mereka berbincang, aku melihat-lihat iPod-iPod yang dipajang di etalase sambil menguping. Rupanya sewaktu temanku menanyakan harga laptop tersebut, dia terkejut karena harganya naik. Penjaga toko itu hanya bilang, harga Mac tersebut terpaksa naik satu juta karena mulai sekarang semua produk Apple terkena PPN. Usai berbincang dengan penjaga toko tersebut, kami pun duduk-duduk sambil memakan jajanan yang baru saja dibeli di koperasi terdekat. “Sialan, bayar PPN tapi pajaknya buat Gayus…”, begitulah kira-kira temanku berceletuk. Tentu saja aku jadi teringat kejadian tadi pagi. Kasus-kasus seperti kasus Gayus membuat kepercayaan masyarakat terhadap negara jelas berkurang. Mungkin ada juga beberapa orang yang ragu membayar pajak karena takut uang pajak yang dia bayarkan akan sia-sia karena dimakan koruptor. Kejadian seperti ini membuatku bertanya-tanya kenapa sih negara ini mesti sekacau itu. Meskipun tidak kacau-kacau amat, tapi ini jelas keadaan yang seharusnya dihindari oleh pemerintah. Temanku hanya bisa menggerutu karena sepertinya dia tidak jadi membeli Mac yang sudah dia idamkan. Tentu saja hanya aku yang bisa mendengar gerutuannya saat itu. Bahkan bangku yang kami duduki tidak akan mengerti apa yang temanku katakan, dan tiang koridor pun cuma bisa menjadi saksi bisu suara hatinya.

Meskipun kejadian ini aku tulis, dan mungkin ada orang lain yang membacanya, aku yakin ini tidak akan mengubah apapun (karena untuk urusan seperti ini, aku jadi sangat pesimis). Bahkan orang lain yang membaca artikel ini, terkadang cuma bisa menjadi saksi bisu suara hati sesamanya dan tidak dapat berbuat apa-apa, seperti layar monitor yang dipasangi TV Tuner atau bangku di depan koperasi tempat kami membeli minuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s